my life: become an auditor

1 tahun yang lalu, aku menikmati kehidupanku menjadi seorang auditor.

Padahal sebelum aku lulus, aku bener-bener ga ada pikiran mau jadi auditor eksternal. Walaupun ketika membayangkan gajinya yang lumayan menggiurkan (katanya auditor yang kerja di salah satu KAP big 4 di dunia, yang aku datangi ketika KKL), hati ini tertarik juga.

Hari itu ketika tes wawancara dimulai, tidak ada pertanyaan teoritis yang ditanyakan padaku. Yang ada hanya 2 pertanyaan, apakah aku bersedia bekerja di Jakarta dan kenapa aku tertarik menjadi auditor.

Pertanyaan pertama, langsung aku jawab “ya”, tetapi pertanyaan kedua, aku sempat terdiam sebelum menjawabnya. Akhirnya kukatakan bahwa aku merasa punya passion terhadap pekerjaan ini. Aku mencari kepuasan kerja.

Jawaban yang terdengar seperti omong kosong kah? Bagiku, tidak. Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, aku tau bahwa gaji yang ditawarkan tidak sebesar yang aku inginkan. Gaji itu hanya cukup untuk hidup sehari-hari di Jakarta.

Selama 1 tahunku menjadi auditor, aku tau itu waktu yang sangat singkat untuk bisa mengambil pengalaman sebanyak-banyaknya. Sampai sekarangpun, setelah aku ga jadi auditor lagi, aku masih suka merasakan passion itu.  Banyak tantangan yang kita rasakan seiring dengan jenis perusahaan yang kita audit. Emang sih prosedurnya sama, kayak Test of Control (ToC), Test of Transaction (ToT), vouching, cash opname, stock opname, subsequent payment, subsequent received, rekap Pajak, dan berbagai prosedur lain, yang rata-rata ga aku pelajarin selama mata kuliah auditing di kampus dulu.

Menjadi auditor juga membuka kesempatan kita bertemu dengan banyak orang baru, dengan berbagai karakter. Kata seorang partner di kantor aku, sekolah yang paling besar adalah masyarakat, obyek yang kita pelajari adalah orang-orang yang kita hadapi.

Banyak klien yang baik, pembukuannya rapi, tapi udah mau bangkrut, banyak juga klien yang jutek, maunya kita audit selesainya cepat, tapi mereka kasih datanya lama.

Seringkali auditor dianggap merepotkan klien ketika sang auditor meminta data-data yang dianggap terlalu banyak, atau terkadang harus meminta data-data audit yang telah diberikan juga tahun sebelumnya. Kadang, ada juga klien yang lupa kalo dulu ngasih datanya ma auditor dari KAP lain, jadi kita sebagai auditor baru harus mengecek data itu lagi.

Kadang, aku berpikir, kenapa sih rata-rata klien yang aku hadapi sepertinya menganggap kedatangan auditor sebagai tamu yang menyebalkan dan hanya merepotkan, bukankah kami bekerja untuk mereka juga?

Sementara itu dulu deh ya.. kapan-kapan disambung lagi..hehe…

3 thoughts on “my life: become an auditor

  1. Terkadang aku bertanya,bukankah auditor dan klien adalah pihak2 yg saling bekerjasama,it means auditor krja buat bntuin klien,tetapi kenapa rata2 klien menganggap auditor adalah makhluk yg slalu merepotkan mereka?
    Para auditor hanya melakukan prosedur agar penyajian dan penyusunan lap keuangan sesuai dg standar,agar laporan keuangan itu bernilai tambah.

  2. tiwi,,satu pengalaman gw jadi auditor, yg selalu gw inget adalah
    kita satu tim,,disitu gw nemuin sahabat kaya elo!!
    nice post ya wi,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s