17.08.2010

Dulu aku suka sekali upacara 17 Agustus di sekolah. Menyenangkan melihat para paskibrakanya.

17 Agustus 2010, upacara 17 Agustus pertama setelah 8 tahun absen.

Kemarin, sebenarnya aku merasa malas untuk ikut. H-1 sebelum upacara, aku sibuk tanya-tanya di FB, apakah harus ikut upacara di kantor pusat atau tidak. Mungkin akan banyak yang membatin “Kenapa sih aku ga nasionalis banget?”, tapi menurutku upacara bukan satu-satunya bentuk nasionalisme.  Kenapa upacara dianggap sebagai bentuk nasionalisme? Lalu, siapa sih yang memulai tradisi berbagai macam lomba untuk memperingati hari kemerdekaan kita?

Apa upacara 17an itu hanya sekedar menangkap momen? Momen proklamasi, momen kemerdekaan negara kita. Ah, mungkin tidak begitu.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak yang bertanya,  “apakah Indonesia benar-benar telah merdeka?”. Pertanyaan yang hampir selalu berulang.

Mungkin karna melihat berbagai hal negatif yang masih terjadi di Indonesia, membuat banyak orang merasakan kemerdekaan yang kita miliki adalah semu.

Masih banyak rakyat yang dililit kemiskinan, tingkat pengangguran yang juga masih tinggi, tingkat kriminalitas yang ga kalah hebohnya. Ketika hukum masih bisa diubek-ubek. Ah, apalah kemudian yang membuat kita bangga sebagai rakyat negeri ini?

Terlalu banyak yang dikeluhkan, terlalu banyak yang kita lihat negatif dari negeri kita, terlalu banyak yang kita tuntut dari para pemimpin yang kita anggap tidak becus. Terkadang bahkan dengan bahasa yang tidak patut, ada yang memaki mereka, walaupun mungkin “hanya” lewat status di jejaring sosial.

Ah, ini lebih kepada renunganku, mengingatkan aku sebelum aku menunjuk dan menyalahkan seseorang, sesungguhnya hanya 1 jari yang menunjuk kepada orang itu, tetapi 4 jariku yang lain menunjuk ke diriku sendiri.

Aku ingin jadi agen perubahan itu, perubahan menuju kemerdekaan negeri kita sesungguhnya.

Dan untuk menjadi agen, haruslah merdeka terlebih dahulu.

Bagaimana caranya merdeka?

Masing-masing orang mungkin berbeda dalam memandang dan merasakan arti kemerdekaan bagi hidupnya. Terkadang ada org yang sejatinya merdeka di “luar”,tp terjajah di “dalam”. Adalah kemalasan, rendah diri,senang berprasangka, iri, dan senang menyalahkan pihak lain atas kegagalan dan “penderitaan” diri bisa jadi jenis penjajah baru dalam diri kita. Maka bangkit dan berjuanglah untuk merdeka!!

Mulailah berusaha menjadi penyedia solusi bukan hanya pengekor pengkritik ato penghujat atas belum merdeka-nya negeri kita (nasehat terutama buat diri sendiri)..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s