6

balada (C)PNS….

7 bulan sudah saya menjadi seorang abdi negara ato kadang disebut juga pelayan masyarakat.

Karna masih ada huruf  “C”, saya masih berstatus sebagai “CALON” pelayan.

Apakah saya bangga dengan pekerjaan saya?

Apakah ada passion/ gairah yang saya rasakan selama saya bekerja selama 7 bulan ini?

Ijinkan saya me-refresh kembali ingatan saya akan pekerjaan saya sebelum menjadi abdi negara….

Kehidupan saya sebelum menjadi “pelayan” adalah menjadi seorang auditor..

Apakah saya bangga?

walaupun bukan bekerja di sebuah KAP yang masuk big 4, tapi saya bangga menjadi seorang auditor. Meskipun dengan gaji yang tidak seberapa (jangan kira, auditor slalu punya banyak duit ya.. :p), tapi ketika ditanya apa pekerjaan saya, saya akan menjawab dengan bangga “saya auditor”.

Entah itu jenis kebanggaan apa, saya pun tak mengerti.

Apakah saya punya passion dalam bekerja?

Meskipun saya merasa belum bisa mengembangkan semua potensi diri saya dengan maksimal, tapi, saya merasa ingin terus belajar dan bekerja di situ, dan itu sudah cukup buat saya untuk mengatakan saya punya passion itu.

Dulu, ketika saya baru lulus kuliah, saya menganggap tes PNS hanyalah sebagai ajang kompetisi yang sangat saya sukai. Saya ingin melihat seberapa baik kemampuan saya dalam bersaing dengan sekian banyak orang di seluruh negeri ini. Intinya saya menikmati aroma kompetisi yang terasa begitu kental di tes-tes seperti itu.

Ketika hampir 1 tahun saya menjalani hari-hari sebagai auditor, saya tiba di suatu titik bahwa saya ingin mulai memikirkan masa depan. Dan saya tidak berpikir bahwa auditor adalah pekerjaan yang cocok dengan masa depan yang sedang saya rancang saat itu, seberapapun besarnya rasa cinta dan passion saya terhadap pekerjaan ini. Hingga saya akhirnya memutuskan untuk mulai mencari-cari pekerjaan lain (walaupun dengan setengah hati) yang sesuai dengan bayangan saya atau mendukung impian saya. PNS bukan pilihan favorit saya. Setelah menjalani hari sebagai auditor, saya menikmati hari-hari bekerja di berbagai lingkungan berbeda, bertemu banyak orang dengan berbagai karakter. Saya kehilangan gairah untuk hanya bekerja di belakang meja, bertemankan berbagai berkas yang terlalu “birokratis”.

Mungkin, orangtua lah satu-satunya alasan saya mengikuti tes CPNS saat itu, kecuali ketika saya mengikuti tes di salah satu instansi pemerintah yang terkenal dengan audit-mengauditnya (obsesi pribadi yang belum hilang :p).

Saya tidak benar-benar peduli saat itu.

Di departemen yang saya masuki sekarang, saya merasa jurusan saya hanyalah sekadar “peran pembantu”.

Alasan saya ikut tes departemen saya hanya karna tesnya cuma 1 kali, tidak perlu berbelit-belit dengan beberapa tahap. Malas rasanya jika membayangkan harus ikut tes berkali-kali untuk sesuatu yang tidak terlalu kita minati.

Pada hari tes, di saat semua orang di sekitar saya terlihat sangat sibuk belajar, saya bingung mau ngapain. walaupun akhirnya membuka contoh soal bahasa inggris untuk tes cpns, tapi ga ada satupun yang masuk karna saya udah ga konsen dengan udara panas yang menyergap senayan hari itu. Saya hanya berusaha engerjakan semua soal sebisa saya, termasuk soal yang di luar kompetensi saya.

1 bulan setelah tes, dengan pengumuman yang pake acara telat, setengah percaya saat saya membaca sms dari ayah saya pagi itu, saya lolos tes tersebut.

Nah, di sinilah saya sekarang. 

Mencoba mencari sisi positif dari pekerjaan saya sekarang.

Sempat saya mencari alasan lain yang bisa menguatkan langkah saya di sini. Seburuk apapun bayangan awal saya tentang lingkungan ini, saya bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepada saya saat ini.

Saya tidak ingin masuk, kemudian menyesal di tengah jalan.

Saya tidak ingin masuk ke instansi ini dan tidak berdaya guna sama sekali.

Terlalu banyak citra negatif PNS di mata orang-orang yang menjadi salah satu alasan orang tersebut untuk tidak menjadi PNS. Tapi, ketika semua orang menghindar memasuki lingkungan ini karna hal tersebut, maka kapan lingkungan pemerintahan kita ini menjadi lebih baik. 

Apakah kita hanya akan menjadi bagian dari orang-orang yang terus-menerus mengkritik tapi tak mencoba masuk dan memperbaiki?

Saya meyakini bahwa Perbaikan tidak bisa hanya dari luar, tapi juga harus dari dalam.

 Kenapa tidak mencoba menjadi agen perubahan, yang meskipun ini terdengar naif ataupun terlalu muluk.

Meskipun di lingkungan ini kita akan menemukan berbagai hal yang sedikit demi sedikit mencoba meruntuhkan idealisme kita, tapi bisakah kita coba bertahan dan yakin bahwa DIA akan memberikan pertolongan bagi hambaNYA yang senantiasa berusaha dalam kebaikan?

Tulisan ini mungkin hanyalah bagian dari idealisme saya, sekedar penguat dan pengingat saya ketika saya mulai rapuh.

Tuhan, kami syukuri kami di sini

Ijinkan kami mengabdi untuk negeri

Inilah wujud perjuangan kami

Sumbangsih kami sedikit untuk negeri

Indonesia harus sehat

Indonesia harus kuat

Tuhan, kami syukuri kami di sini

Luruskan kami, bulatkan tekad kami

Hindari kami dari tindak korupsi

tak ingin kami pensiun di bui…

 

Untuk teman-teman yang berniat  menjadi abdi negara, mari luruskan tekad dan niat. 1 koma sekian mungkin tak akan pernah cukup jika kalian ukur hanya dari nominal, dan jika kalian bandingkan dengan kerja keras yang mungkin kalian pikir  kalian berikan. Jadi, kalau niatnya mau sejahtera, gaji gede, mungkin di sini bukan tempatnya. Ada tempat lain yang bisa kalian incar dan kalian usahakan.

Buat semua agen perubahan di mana saja, semangat!!!!

0

arisan toilet…

Arisan toilet..

istilah ini aku dapat waktu baca bukunya Dee yang judulnya perahu kertas.

Rumpian toilet menurut aku lebih tepat mungkin ato obrolan toilet? *grin*

Cewek-cewek itu sering banget kan ke toilet bareng-bareng. seharusnya sih cuma bentar kan kalo mo ke toilet cuma buat melakukan ritual yang seharusnya dilakukan di toilet. Tapi ritual ke toilet bareng temen itu bisa jadi memakan waktu lama gara-gara cewek-cewek suka banget sekalian ngerumpi di toilet. Hm, ga harus ngegosip ato ngomongin orang lain sih, tapi terkadang buat ngomongin sesuatu yang misalnya ga mungkin diungkapkan di ruangan kantor karna ada banyak orang.

Yah, kadang malah dijadiin ajang curcol juga.

Penting ga nya arisan toilet ini, hmm tergantung ma obrolannya mungkin.

Kalo ngegosip kayanya arisan toilet ini jadi buang-buang waktu plus nambah dosa. Tapi klo sekalian curcol mungkin bisa positif juga, daripada mendam masalah sendirian, tapi harus mastiin dulu tu toilet cocok, aman dan nyaman ga buat jadi tempat curcol. hehe,,,