0

RESOLUSI???

ah,,apa itu resolusi?

orang ramai-ramai meributkannya menjelang pergantian tahun ini.

Tahun 2010 ini, jujur saja saya tidak membuat resolusi apa-apa.

tidak ada target apa-apa.

Mungkin kata orang, saya tidak punya impian, cita-cita yang ingin dicapai.

Ada yang bilang, saya terlalu santai karna saya sudah berada di titik yang menurut sebagian besar orang sudah aman.

 ah, tidak juga, pikir saya.

Alih-alih mencetuskan resolusi, waktu tahun 2010 tiba saya lebih tertarik menapak tilasi perjalanan saya sepanjang 2009.

Begitu pun tahun ini, saya lebih ingin melakukan monev (jiah, bahasanya jijay banget ya..) ketimbang berencana macam-macam yang jarang ada tindak lanjutnya.

Beberapa yang ingin saya evaluasi mungkin cenderung bagaimana saya bersikap selama ini. Bagaimana tingkah laku saya selama ini.

Saya tahu saya masih banyaaaaaak sekali kekurangan dalam bersikap. saya masih kurang dewasa dalam menghadapi konflik. Entah sudah beberapa kali saya berkonflik dengan orang-orang di sekitar saya, di saat saya sebaiknya mengalah saja.

Hm,,Kenapa rasanya saya jadi makin egois ya?

Saya ingin jadi lebih dewasa dalam menyikapi konflik. Apalagi kalau konfliknya ga penting gitu, yang bisa-bisa malah merugikan posisi diri sendiri.

Selain kedewasaan, saya ingin sekali, dan harus bisa memperbaiki kualitas dan kuantitas waktu dan kebersamaan saya bersamaNya. Huaaah,,kian malu rasanya hati ini ketika melihat amalan yang compang camping itu.

Betapa sering saya berlarut-larut dalam pekerjaan saya, tapi betapa sebentar waktu saya bersamaNya.

Saya merindukan lingkaran kecil itu lagi, tapi kapan ya bisa mulai lagi?

saya kangen stadium akhir dengan yang namanya berlomba dalam kebaikan, saya kangen atmosfer cinta yang ada di lingkaran itu. Bukannya tak bisa dilakukan, tapi kenapa saya merasa atmosferna berbeda ya?

Kapan terakhir membaca al ma’tsurat bareng, hapalan bareng, muhasabah bareng?

Bahkan di suatu rapat internal kemarin, saya sempat terharu ketika, sebagai doa penutup, pembaca doanya membaca doa robithoh..

Subhanallah, kangen saya makin menjadi karenanya.

Ack, ko jadi melantur kemana-mana.

Resolusi yang baru muncul lagi ketika saya di kamar mandi tadi, saya harus mulai berolahraga lagi. meluruskan badan yang mulai kaku-kaku ga karuan. Hm,,fitnes harus digalakkan lagi ya…hehe..

Sekian dulu aja deh.

2

tentang seorang teman…

 

Hari yang benar-benar mengkhawatirkan buat saya.

Mungkin ini bukanlah waktu yang tepat untuk menulis.

Tetapi, saya pun tak tau harus berbuat apa sekarang.

Biarkan saya menceritakan tentang seorang teman , yang entah mengapa telah membuat saya menunggu kisah darinya.

Entah kenapa setiap dia menulis, saya merasa tersindir. Padahal mungkin orangnya sendiri tidak ada maksud seperti itu. Saya merasa dia menuangkan apa yang sedang saya pikirkan dan saya terpesona dengan hal itu, sekaligus gregetan.hahaa…

Saya masih ingat awal pertemuan saya dengannya di suatu diklat. Saya yang datang terlambat dengan baju yang tidak sesuai dresscode saat itu mungkin agak mencolok perhatian atau mungkin ini perasaan saya saja. Saya duduk di bangku yang kosong saat itu. Kalau saya tidak salah ingat, saya duduk di sebelahnya, atau tak jauh darinya.

Saya yang emang lagi ga PD saat itu merasa dia menatap saya lebih dari satu kali. Mungkin ini saya saja yang sedang GR. Atau mungkin sayalah yang menatapnya terus dan tak berani membuka pembicaraan dengannya.hehe..

Saya melihat pribadinya sebagai sosok yang pendiam.

Hm, mungkin bukan pendiam, tapi introvert lebih tepat. Saya tak pernah mengobrol dengannya.

Bukan saya yang tak mau, tapi, saya bingung mau ngobrol apa, dan saya tak berminat mencari tau topik apa yang bisa kami obrolkan (lagi antisosial).

Hingga ada satu permainan yang menjadikan saya berinteraksi dengannya. Hm, percaya atau tidak, waktu permainan itu dimulai, entah kenapa saya berfirasat bahwa dia akan memilih saya saat itu. Makanya saat dia maju, saya iseng ke toilet. Padahal di toilet ga ngapa-ngapain, Cuma menunggu giliran dia selesai dan dia memilih yang lain.

Tapi yang terjadi tidak begitu, seorang teman menyusul saya ke toilet, dan mengatakan bahwa dia memilih saya, dan sayalah giliran yang maju berikutnya. Haha… what a coincidence, but unfortunately i don’t believe any coincidence..

Saya mendengarkan alasan dia memilih saya, klasik, saya sudah menduganya. Kami “mengenal” melalui dunia maya. Tidak benar-benar mengenal ataupun mengobrol, tapi, ya seperti itulah.

Saya mengamati tulisan-tulisannya. Sangat banyak sekali, sangat jauh di atas saya.

Terkadang agak berat  bagi saya memahami bahasanya, tapi lama kelamaan dia menyederhanakannya. Saya suka ketika dia menulis tentang kisah sehari-harinya, diklat yang kami jalani, kelas yang dia lalui, bahkan sampai tulisan-tulisannya tentang cinta. Entah mengapa, pada kisah-kisah “patah hatinya”saya jadi mengingat apa yang terjadi pada hati saya.

Dan saya jatuh cinta pada tulisan romantisnya. Jujur, saya sangat penasaran, siapakah akhirnya   yang beruntung akan mendampinginya. Saya menuliskan kisahnya di jurnal saya, dan saya menanti akan berlabuh dimanakah hati sang pujangga itu.hehe…

Saya menanti kisah yang dia pun belum tau akan hal itu.

Saya menanti sang Sutradara kehidupan ini menjalankan kami semua dengan skenarionya.

Saya berharap suatu saat saya akan membaca bukunya. Karyanya..

2

titik aman atau titik bahaya???

ketika saya diamanahi pekerjaan ini olehNya, banyak yang berkata bahwa saya telah berada di titik aman. Titik aman karna bagi segelintir orang di Indonesia ini, pekerjaan saya sekarang bisa dibilang pekerjaan “aman”.

Aman karna udah ada jaminan hari tua, udah ada pensiun, ga bakal kena PHK (tapi bisa saja diberhentikan kalo terlibat kutukan kasus-kasus tak termaafkan), dan lain-lain (saking ga tau lain-lain itu apa lagi). Bahkan ada yang bilang, yang harus dipikirkan ketika telah mendapatkan pekerjaan ini adalah mencari pendamping hidup (bagi yang masih single ya…). Pekerjaan ini masih menjadi favorit para calon mertua, katanya.

Meskipun gaji kecil sudah bukan jadi rahasia (khususnya untuk departemen yang belum menerapkan remunerasi). Angka satu koma sekian mungkin sangat pas-pasan untuk hidup di ibukota.

Ketika kemudian saya menemukan bahwa lingkungan saya tidaklah sebersih yang saya harapkan, saya pun sadar akan hal itu. Apalah yang saya harapkan dengan begitu banyak cerita yang beredar ke telinga saya sebelum saya masuk ke lingkungan ini?

Kemudian suatu saat timbullah pertanyaan dari seorang teman seprofesi, kita ini sebenarnya ada di titik aman atau justru malah masuk ke titik bahaya?

Ah, untuk hal itupun saya sekarang saya menulis ini. Merenungi, apakah jalan yang saya ambil ini sudah benar?

Tidak, saya tidak menyesal. Saya meyakinkan diri bahwa niat di awal adalah sebagai agen perubahan. Ketika menghadapi dilema-dilema, saya mungkin hanya bisa mengandalkan sujud panjang di tengah malam juga ikhtiar yang tiada henti, tapi bukankah cukup Dia sebagai penolong dan Dialah sebaik-baik penolong?

Banyak dilema, banyak hal yang meruntuhkan idealisme, tapi cukuplah bersandar pada syariatNya. Terkadang begitu banyak pula yang meminta dikompromikan, tapi sungguh Dialah pegangan terkuat dan terhandal yang selalu bisa diandalkan. Meski saya tidaklah sempurna, tapi, saya sungguh berusaha menyempurnakannya dengan cara terbaik yang bisa saya lakukan untukNya.

0

anggaran oh anggaran…

Di akhir tahun ini lagi populer banget dengar istilah “menghabiskan anggaran” di berbagai instansi pemerintah.

Dulu saya bingung, apa sih maksudnya, kenapa juga harus menghabiskan anggaran?

Hm, akhirnya mulai terjawab juga. Ternyata ini terkait dengan perencanaan anggaran. Seperti yang udah diketahui umum, setiap menjelang akhir tahun, Kementerian/Lembaga tu menyusun bahasa awamnya perencanaan kegiatan dan biaya yang dibutuhkan buat melaksanakan kegiatan tersebut. Nah usulan ini ntar tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL)* tolong perbaiki klo salah ya*.

Ini semacam patokan kita mau melakukan kegiatan apa saja dalam 1 tahun anggaran, kapan kita akan melakukan, bagaimana tahapan-tahapannya, sampai dengan berapa biaya yang dikeluarkan.

Setelah RKAKL selesai dan disetujui di DJA, kemudian saat kita menyusun RPK (Rencana Pelaksanaan Kegiatan) dan RPD (Rencana Penarikan Dana). Seperti namanya, Rencana2 ini memastikan pelaksanaan kegiatan dan penarikan dana tiap bulannya.

Tiap bulan ada monitoring dan evaluasi bangsanya manajemen dipa, trus LRA tiap bulan, tiap triwulan ada Laporan PP 39. Ternyata oh ternyata ada sistem nilai yang bisa diterapkan dari Pelaksanaan Kegiatan dari tiap satuan kerja (kapan-kapan aja deh penjelasan lengkapnya :p).

Nilai 1 diberikan pada kegiatan yang penyerapan (dana) rendah dan capaian (fisiknya) juga rendah.

Nilai 2 diberikan pada kegiatan yang capaian rendah, tetapi penyerapan tinggi.

Nilai 3 diberikan pada kegiatan yang capaian tinggi tetapi penyerapan rendah. karena hal ini bisa saja terjadi karna adanya efisiensi dana. (klo aku yang mikir sih ini aku kasih nilai 4, kan bisa menghemat pengeluaran tapi pencapaian output maksimal).

Nilai 4 klo capaian dan penyerapan suatu kegiatan sama2 tinggi.

Nah, dari sini sedikit kejawab kan, kenapa penyerapan anggaran maksimal di akhir tahun begitu digadang-gadangkan?

Padahal, lagi-lagi berdasarkan opini pribadi saya, perencanaan yang baik tidak selalu harus berujung terutama pada penyerapan dana yang tinggi, tapi lebih kepada output dan outcome yang maksimal.

Perlu dipertanyakan jika sebagai lembaga pemerintah kita penyerapan dana tinggi, tapi hasilnya output dan outcome yang berpengaruh akhir terhadap kesejahteraan rakyat atau minimal pada tercapainya tupoksi suatu satker masih minimal.

Sistem yang sekarang bukannya salah, tapi terlalu banyak menjadikan orang salah persepsi.

Jikapun ada yang lebih baik, Mungkinkah suatu saat penilaian ini akan berubah ke arah itu?

2

November rain, but it’s over now…

Hari ini kulepaskan kau dari hatiku…

Kusadari, berusaha terlalu keras melupakan seseorang ternyata sungguh tak mudah.

Sekarang, kutuliskan semua rasa ini, inginku hanyalah bergerak maju,melupakan dan membiarkan hujan menghapus smua jejakmu.


Inilah yang selama ini ingin kutulis, bahkan sejak bulan Mei kemarin.

Ketika aku hampir menangis di tempat umum karna sms mu.

Ah, selemah itukah aku?

Ya, mungkin memang aku selemah itu menghadapimu.

Bahkan ketika ku tau, dengan pasti, bahwa itu hanyalah cinta semu belaka, yang belum pantas tuk diperjuangkan.

Bagaimanapun, aku meyakini bahwa jika seorang lelaki mencintai seorang wanita, maka dia akan memuliakannya dengan cara menikahinya, bukan sekedar pacaran atau berbagai hubungan tanpa ikatan lainnya.

Aku menghitung mundur, menunggu bulan November tiba, menunggu kebahagiaanmu tiba, menunggu waktu untuk akhirnya melepasmu, sebelum sempat memilikimu.

Kau tau, selama ini kita hidup dalam dunia kebohongan. Entah berapa banyak kebohongan yang kita ciptakan dan membuat kita terjebak di dalamnya. Kebohongan tak kan pernah membuat kita bahagia, meskipun kita memaksa diri tuk bahagia.

Berbagai alasan diutarakan, bagiku itu hanya pembenaran, excuse atas segala kesalahan dan kebohongan yang ada.

Kebohongan demi kebohongan, yang kemudian berujung menduanya hati, membuat smua hati yang terlibat terluka dalam.

Hari itu kulepaskan kau dari hatiku, bukan pada saat kau memilih orang lain, tapi setelah sujud panjangku di tengah malam memohon ampun darinya.

Aku tak pernah ingin jadi korban, aku hanya ingin intropeksi diri dan menjadikan ini semua pembelajaranku.

Aku mengindahkan sekalipun aku tau sangat beresiko membiarkan virus merah jambu mampir di hatiku ketika belum ada ikatan pasti..

Kita selalu punya prinsip yang berbeda. Bagiku, aku tak ingin mempertahankan seseorang yang tak ingin bertahan. aku tak pernah ingin memberi harapan, membuat orang terbang tinggi lalu menghempaskannya.

Tapi, bagimu, aku terlalu dingin dengan sikapku.

Aku ingin memperjuangkan dan mempertahankan orang yang kunikahi, bukan orang yang  hanya mencoba bermain ketidakpastian bersamaku.

Jika aku menyukai sesuatu,aku ingin melepasnya saja. Jika dia kembali, maka aku yakin dia milikku, tapi jika tidak, maka aku pun tak kan sakit hati.

Mungkin terdengar sangat pesimis, tapi terkadang ada hal yang di dalamnya kita harus berkompromi dengan semua yang pasti-pasti saja, bukan berkubang dalam ketidakpastian yang dapat menjerumuskan ke dalam kehinaan dan penyesalan….

 

It will be november rain.but i try to not cry anymore for someone that didn’t deserve.

Suatu saat aku berharap aku bisa berdoa dan tersenyum tulus untukmu, untuk kalian..

Maaf..

 

 

4

ketika penat dan lelah mengadakan reuni…

ah,,,setelah melalui seminggu yang padat jadwal,,rasanya tak sabar untuk melabuhkan lelah ini. Tapi, entah kapan saat itu tiba.

Mungkin sampai awal tahun depan akan terus begini.

Ya,,semua mungkin sama-sama capek, tapi, bisakah mengijinkan saya beristirahat sejenak?
Tak hanya sekedar tidur atau merebahkan tubuh ini di atas kasur, tapi, benar-benar beristirahat.

Saya tau semua juga lelah, semua juga capek, tapi saat ini saya menyadari bahwa “batas” saya sudah hampir habis. Tangki persediaan energi saya sudah menipis,  sebentar lagi air mata ini menetes karna merasakan ruhiyah yg kembali kerontang.

saya rindu majelis ilmu itu…

saya rindu dengan kompetisi hapalan dan amalan yang dimuhasabahi tiap pekan.

Bukan hanya laporan-laporan itu yang meminta untuk dimonitor, tapi hati ini juga butuh ditilik, ditengok kebersihannya. karna saya tau, dan semua yang ada di sini tau, bahwa lingkungan ini tidak sebersih yang diharapkan, bahwa hati ini perlu perlindungan ekstra dibandingkan yang dulu.

ketika saya berani menengok, saya rasanya ingin menunduk sangat dalam dihadapanNya karna amalan saya yang semakin compang camping. Saya belum siap ketika membayangkan malaikat maut yang akan menjemput. Jujur, saya malu….

Tuhan, Allah ku yang Maha Penyayang, Ya Robbana, kuatkan hamba di jalan ini… hamba tak ingin menyesali pilihan ini, ketika hamba yakin dan slalu yakin, bahwa setelah kesulitan ada kemudahan, sungguh setelah kesulitan ada kemudahan…

Kuatkan hamba, sungguh hamba tau bahwa Engkau tak kan memberi beban lebih berat daripada yg bisa hamba pikul.

Saya sadar telah banyak momen yang terlewat oleh semua kesibukan ini, berapa banyak silaturahim yang tertunda terus, tapi saya sungguh tak ingin seperti ini.