anggaran oh anggaran…

Di akhir tahun ini lagi populer banget dengar istilah “menghabiskan anggaran” di berbagai instansi pemerintah.

Dulu saya bingung, apa sih maksudnya, kenapa juga harus menghabiskan anggaran?

Hm, akhirnya mulai terjawab juga. Ternyata ini terkait dengan perencanaan anggaran. Seperti yang udah diketahui umum, setiap menjelang akhir tahun, Kementerian/Lembaga tu menyusun bahasa awamnya perencanaan kegiatan dan biaya yang dibutuhkan buat melaksanakan kegiatan tersebut. Nah usulan ini ntar tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL)* tolong perbaiki klo salah ya*.

Ini semacam patokan kita mau melakukan kegiatan apa saja dalam 1 tahun anggaran, kapan kita akan melakukan, bagaimana tahapan-tahapannya, sampai dengan berapa biaya yang dikeluarkan.

Setelah RKAKL selesai dan disetujui di DJA, kemudian saat kita menyusun RPK (Rencana Pelaksanaan Kegiatan) dan RPD (Rencana Penarikan Dana). Seperti namanya, Rencana2 ini memastikan pelaksanaan kegiatan dan penarikan dana tiap bulannya.

Tiap bulan ada monitoring dan evaluasi bangsanya manajemen dipa, trus LRA tiap bulan, tiap triwulan ada Laporan PP 39. Ternyata oh ternyata ada sistem nilai yang bisa diterapkan dari Pelaksanaan Kegiatan dari tiap satuan kerja (kapan-kapan aja deh penjelasan lengkapnya :p).

Nilai 1 diberikan pada kegiatan yang penyerapan (dana) rendah dan capaian (fisiknya) juga rendah.

Nilai 2 diberikan pada kegiatan yang capaian rendah, tetapi penyerapan tinggi.

Nilai 3 diberikan pada kegiatan yang capaian tinggi tetapi penyerapan rendah. karena hal ini bisa saja terjadi karna adanya efisiensi dana. (klo aku yang mikir sih ini aku kasih nilai 4, kan bisa menghemat pengeluaran tapi pencapaian output maksimal).

Nilai 4 klo capaian dan penyerapan suatu kegiatan sama2 tinggi.

Nah, dari sini sedikit kejawab kan, kenapa penyerapan anggaran maksimal di akhir tahun begitu digadang-gadangkan?

Padahal, lagi-lagi berdasarkan opini pribadi saya, perencanaan yang baik tidak selalu harus berujung terutama pada penyerapan dana yang tinggi, tapi lebih kepada output dan outcome yang maksimal.

Perlu dipertanyakan jika sebagai lembaga pemerintah kita penyerapan dana tinggi, tapi hasilnya output dan outcome yang berpengaruh akhir terhadap kesejahteraan rakyat atau minimal pada tercapainya tupoksi suatu satker masih minimal.

Sistem yang sekarang bukannya salah, tapi terlalu banyak menjadikan orang salah persepsi.

Jikapun ada yang lebih baik, Mungkinkah suatu saat penilaian ini akan berubah ke arah itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s