ini tentang “peduli”

Peduli…

Apa itu makna peduli?

Peduli bagi saya sama saja dengan menunjukkan perhatian pada suatu hal. Concern with something.

♥ Film ga sesuai umur. Ide untuk menulis ini terbetik ketika saya akan menonton Harry Potter and Deathly Hallow. Kursi penonton di belakang saya penuh dengan anak-anak tanggung (soalnya menurut saya mereka masih belum cocok juga disebut remaja). Teman saya waktu itu langsung protes, karna menurutnya film ini seharusnya bukan untuk anak-anak (Ini karna dia sudah menonton film ini sebelumnya). Yah, rating film ini memang REMAJA, tapi setelah saya menonton sendiri, saya setuju dengan pendapat teman saya itu. Film ini memang bukan untuk remaja.  Memang, jika kita mengikuti perkembangan Harry Potter  dari seri pertamanya, kita akan mendapati bahwa ini memang cocok untuk remaja, bahkan mungkin untuk anak-anak (dengan beberapa bagian yang perlu pendampingan dari orangtua). Tapi, seiring dengan perkembangan serial ini, Harry Potter dan teman-temannya pun semakin dewasa, dan ada hal-hal yang mereka lakukan di film itu yang tidak untuk konsumsi remaja kita.

Lalu yang menjadi pertanyaan, kenapa pihak bioskop tidak melarang mereka? Saya teringat ketika dua minggu lalu menonton di tempat yang sama, mbak-mbak penjual tiketnya menolak permintaan 2 orang remaja yang ingin membeli tiket sebuah film (kebetulan saya tidak mendengar judul film yang mau ditonton itu), dengan alasan bahwa film ini untuk penonton dewasa. Jujur waktu itu saya salut dengan peraturan yang diterapkan oleh bioskop ini. Tapi, kenapa sekarang tidak diterapkan kembali?

Apa karna ini film Harry Potter? Saya tidak mau berprasangka dan menuduh bahwa mereka hanya peduli pada keuntungan penjualan tiket dari film box office, tapi, apa mereka tidak peduli lagi?

Saya  malah jadi bertanya-tanya lebih jauh, siapa sih yang berwenang menentukan rating film ini?

Belum lama ini saya kembali menonton film. Burlesque. Dan saya dibuat shock ketika banyak sekali anak kecil yang ada di bioskop itu. Saya sempat berpikir apa saya salah masuk  studio ya.

Paham sih kalau itu hari libur dan mungkin orangtua anak-anak itu udah kepengen banget nonton ni film, dan mungkin juga mereka menganggap anak-anak mereka belum mengerti jadi gak apa-apa kalau mau diajak. Tapi….tetap aja kan? Bagi saya itu hal besar (padahal bukan anak saya juga.haha)

Anyway, itu hanya salah satu contoh ketidakpedulian yang terjadi  di sekitar kita. Mungkin itu hanya pemandangan yang sering kita saksikan dan juga bagian dari ketidakpedulian kita.

Masyarakat yang makin individualis jujur terkadang membuat saya muak dengan dunia ini. Saya pun tidak munafik dan mengakui bahwa saya terkadang menjadi sangat individualis dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar.

♣ Basement = parkiran + mushola. Salah 1 bentuk kepedulian lain.  Yang saya cari ketika berkunjung ke arena publik saya mencari mushola dan toiletnya.  Setiap saya melihat mushola yang ditempatkan di basement, saya ragu kalau penduduk Indonesia ini mayoritas beragama Islam. Kenapa sih mushola ditempatkan di area parkir? Masih mending kalau tempatnya besar, rapi dan memadai. Tapi, lebih seringnya saya menjumpai ruangan kecil seadanya dengan tempat wudhu yang juga seadanya (jangan harap tempat wudhu cwok ma cweknya pisah deh). Tidak saja di mall atau area publik lain seperti rumah sakit atau hotel. Di kantor klien yang dulu saya datangi pun seperti itu. Ada sih yang menyediakan tempat khusus untuk shalat, tapi tidak jarang saya memilih wudhu di kamar mandi dan shalat di ruangan audit saya daripada di mushola sangat sederhana sekalinya itu atau di masjid nun jauh di sana karna di kantor itu tidak ada musholanya.

Yang bikin saya paling gemes mungkin di area mall. Kan banyak banget orang yang berkunjung ke sana, belum lagi karyawan-karyawan toko di mall tersebut yang muslim, tapi kenapa sedikit sekali saya menemukan mushola yang layak?

Seringnya mushola yang nyaman itu saya temukan di mall yang memang eksklusif (toko-tokonya emang brand besar). Tapi, masa iya disuruh maen ke sana terus? Bangkrut donk.haha…

Ini list mall yang mushola nya udah pernah saya coba dan nyaman menurut saya:

  1. Plaza Indonesia. Antara ikhwan (cowok) dan akhwat (cewek) nya dipisah. Tempat wudhunya juga terlindungi, ga kelihatan dari luar. Walaupun kecil, tapi nyaman.
  2. Pasaraya Grande. Tempat wudhunya juga terpisah nih. Tempatnya lumayan luas, makanya pas ramadhan sering dipake buat tarawih. Ada toilet juga, buat saya ini fasilitas plus. Hehe..
  3. Gandaria City. Ini tempat fave saya akhir-akhir ini.
  4. Pondok Indah Mall.
  5. Grand Indonesia. Mushola nya oke, petugasnya ramah. Tapi sayang tempat wudhu buat cewek walaupun tertutup tirai tapi masih bisa kelihatan dari luar.
  6. Blok M Square. Masjidnya di atap. Gede, lumayan enak, tapi panas juga nih kalau siang bolong.hehe..
  7. Pasific Place. Ini sih baru kata teman saya. Saya sendiri belum membuktikan. Kapan-kapan deh ya..

Kayaknya emang masih sedikit mall yang saya kunjungi yang punya fasilitas mushola yang nyaman di Jakarta. Kalau di Semarang sendiri (belum termasuk Paragon), belum ada tuh mushola di mall yang nyaman. Kemarin main ke mall di Solo, lagi-lagi ketemu mushola yang di parkiran. Kecil dan sempit.

Kalau buat perusahaan ada Corporate Social Responsibility (CSR). Apa menyediakan tempat ibadah seperti mushola di pertokoan itu termasuk CSR bagi pengusaha pertokoan?haha…

Banyak ketidakpedulian lain…

  • Jumlah tempat sampah di ruang publik pun bisa jadi potret kepedulian.  Bagaimana bisa membudayakan membuang sampah pada tempatnya jika tempat sampah menjadi barang langka? Walaupun jika kita tidak menemukan tempat sampah, ini bukan excuse  kita membuang sampah sembarangan.
  • Ada berapa banyak ruang khusus untuk merokok di tempat publik? Ketika banyak perokok yang tak kunjung punya kepedulian dan kesadaran untuk tidak merokok di tempat publik. Ada tempat khusus saja mereka masih merokok di sembarang tempat. Kapan ya dunia ini bebas asap rokok?

 Ketika ketidakpedulian menyergap, membiarkan asap pembunuh itu masuk ke paru-paru bayi dan anak-anak tak berdosa yang berada di sekitar.

  • Ada berapa banyak tindak korupsi yang terjadi ketika tidak ada yang peduli lagi tentang uang negara, tentang uang rakyat. Tentang berapa banyak rakyat yang bekerja mati-matian tapi masih mendapat pelayanan yang tak sepantasnya.
  • Pedulikah terhadap makanan, pakaian, uang yang kita pergunakan? Halal kah? Haramkah?

 

Banyak hal-hal kecil yang sebenarnya menunjukkan kepedulian seseorang terhadap lingkungannya.

 

Mari mulai peduli….

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s