Medley, rangkaian kisah…

Perasaan saya campur aduk hari ini. Lebih parah dari campuran jus bayam, stroberi, apel, tomat, mangga. Saya tak tahu rasa yang dominan hari ini.

Hanya campur aduk.

Begitu banyak kejadian acak dalam hidup saya ini.

       Kemarin….

Ketika Kematian menjadi satu-satunya kepastian dalam hidup ini..

Yang paling baru ketika kemarin di kantor saya bertemu dengan seorang bapak yang telah lama ijin sakit. Lalu, sorenya saat saya akan pulang, saya mendapati kabar bahwa bapak itu telah meninggal dunia. Saya merinding mendengar kabar itu, bahkan ketika menuliskan ini kembali, saya merasa akan menangis. Saya tidak kenal dekat dengan bapak itu, tidak lama setelah beliau pindah ke bagian yang sama dengan saya, beliau ijin sakit.

Kabar kematian yang menyapa begitu mendadak menghentak jiwa saya yang akhir-akhir ini memang begitu menggelitik pikiran saya (walaupun efeknya buka bikin geli, tapi bisa bikin menangis dadakan).

Ketika pulang kemarin, ibu saya berkata dalam bisik bahwa ayah saya sakit. Saya tak tau tipe orang seperti apa saya sebenarnya karna saya tak menangkap nada dan ekspresi yang pantas dari diri saya saat itu. Saya datar-datar saja. Tapi kemudian, setelah saya kembali ke Jakarta, saya jadi memikirkan banyak hal. Mencari tau tentang penyakit itu dan yang saya temukan ternyata tidak membuat saya tenang.

Saya menjadi kian sesnsitif. Bahkan membaca novel yang di salah satu babnya menceritakan sang tokoh yang kehilangan ayahnya, saya dengan mudah sekali menangis. Begitupun ketika saya melihat di TV saat tsunami meluluhlantakkan Jepang, ketika dampak tsunami itu bagaikan efek domino. Ketika awan kesedihan menggelayut di hati..

Berbagai kabar kehilangan yang datang membuat saya berpikir, bagaimana rasanya kehilangan orang terdekat kita, orang yang kita cintai, sayangi. Tidak pernah bertemu dengannya lagi. Melihat sosoknya yang selalu mendampingi. Bagaimana hidup kita setelah kehilangan. Saya tau kita akan tetap bisa melanjutkan hidup.

Seperti dulu ketika saya kehilangan seseorang, walaupun bukan karna kematian, saya berpikir bagaimana saya bisa hidup setelah kehilangan dia? Tapi, di sini, sekarang, saya masih melanjutkan hidup.  Saya melihat seorang teman kehilangan orang terdekatnya selama 6 tahun terakhir. Dulu sempat terlontar pertanyaan darinya, bagaimana hidupnya setelah kehilangan. Dan sekarang dia telah melanjutkan hidup dengan bahagia, memaknai kehidupan barunya dengan lebih baik setelah kehilangan itu. Dan Allah mengganti kehilangan itu dengan yang lebih baik.

Satu hal pula yang saya sadari ketika ada yang “pergi” adalah bahwa kita tak pernah benar-benar memiliki yang kita anggap kita miliki. Sungguh memang hanya Allah lah pemilik segala sesuatunya dan kepadaNya lah semua kembali.

Kita tak pernah memiliki apapun dan kita akan kembali kepadaNya juga tanpa apapun, kecuali amal yang menemani dan menjadi pembela kita kelak.

     Beberapa hari yang lalu…

Ketika cinta menjadi menyakitkan. Ketika keakraban dinilai lebih. Semua datang hampir bersamaan.

Ketika kita masih sanggup bertahan tetapi dia tak sanggup bertahan, lalu untuk apa mempertahankan orang yang tak ingin bertahan.

Dulu saya pun berkata seperti itu.

Entahlah saya harus berkata apa ketika diminta pendapat tentang ini.

Terkadang seseorang memilih mundur dan menyerah  dibanding bertahan, karna dia pikir inilah jalan yang tepat, jalan terbaik yang bisa diambil saat ini, saat semuanya diliputi oleh ketidaksiapan. Mundur adalah yang terbaik, ketimbang memaksa bertahan hingga akhirnya tiba saat harapan tak bertemu kenyataan.

Mundur mungkin cara terbaik agar sakit itu tak begitu dalam ketika harapan tak terkabul. Semakin lama bertahan, semakin besar pula kemungkinan luka yang ditimbulkan begitu dalam menggores.

Tapi, ada saatnya mempertahankan seseorang yang merasa tak sanggup bertahan. Itulah yang belum pernah saya lakukan karena sekian banyak pertimbangan.

Dengan meyakinkannya untuk tetap bertahan bersama. Tapi, agak tipis jaraknya dengan sesuatu bernama pemaksaan. Mungkin pintar-pintar membedakan sajalah. Meminta bantuanNYA agar diberi kemantapan hati untuk menilai mana proses “meyakinkan”, mana yang “memaksakan”. hehehehe……

Saya berharap suatu saat saya bisa meyakinkan seseorang untuk berjuang bersama, bukan memaksakannya berjuang bersama, dalam hal apapun itu.

 

Kebersamaan yang melahirkan cerita…

Ketika keakraban dinilai lebih.

Ketika kebersamaan dipertanyakan hingga kapan.

Ada pertanyaan, ada prasangka, ada gunjingan, awalnya ada ketidakpedulian. Mencoba menutup mata, mencoba tak mendengar berbagai selentingan, dan berusaha keras menjaga hati agar tak jatuh lagi dengan semua sikap manis yang ada.

Tapi, ternyata saya menjadi yang terakhir tau semuanya. Saya kecewa, walau akal sehat mengatakan ada yang ingin dan tak ingin diceritakan, ada yang berhak dan tidak untuk didengar, tapi semua tetap membuat makna pertemanan ditanyakan kembali. Betapa hubungan ini memang hanya pertemanan tanpa ikatan hati. Betapa hubungan ini sebenarnya rapuh, setidaknya bagi saya yang menganggapnya serius.

Ketika ada yang muak dengan semua gosip dan prasangka. Saya harus berkata apa selain “maaf”? Walau dia muak dengan kata itu, tapi saya lelah melihat resah itu. Rasa bersalah ini kian membumbung di hati karena menangkap gelisah dan tak nyaman dari mata dan sikapnya.

Saya menangkap resah yang bercampur baur dalam wajah itu. Perasaan ini menangkap kerinduan itu. Kehilangan yang dirasakan. Saya merasa hubungan itu akan berubah. Semua menjaga jarak. Ataukah kini giliran saya tuk berprasangka?

 

       Awal bulan ini…

Satu tahun sudah…

Satu tahun pengabdian tepat 1 Maret yang lalu.

Tepatkah dikatakan pengabdian?

Ketika masih begitu sering lisan ini mengeluh meski tlah bertekad tuk berhenti.

Ketika akhir-akhir ini semua dirasa tidak memuaskan, gairah menurun, apalagi rasa cinta yang memang belum pernah datang semakin mengentalkan kejenuhan.

Satu tahun ini, begitu banyak yang terjadi. Pernah suatu saat saya merasa saya sangat amat jenuh. Bahkan terpikir untuk resign saking muaknya saya dengan semua ini.

Satu tahun ini, mengenal begitu banyak orang, menuliskan berbagai kisah dalam buku kehidupan.

Satu tahun ini…

Tetap bertanya apakah yang sudah dilakukan untuk negeri ini. Apakah saya hanya jadi bagian dari keburukan lingkungan birokrasi negeri ini? Saya mencoba yang terbaik, meski saya tau kekurangan itu masih ada di mana-mana.

Satu tahun ini, meja saya kian berantakan. Sudah setumpuk berkas yang mengantri di meja, hampir melewati batas atas kubikel saya.belum juga dibereskan. Mungkin besok, mungkin lusa, atau kapan-kapan.hehehe…

Satu tahun, adakah saya bertahan sampai 31 tahun lagi? Saat tubuh ini mulai renta, akankah pengabdian ini bertahan? Ataukah saya akan mengabdi dengan cara lain? Karena pengabdian memang bukan dengan cara ini saja. Pengabdian bisa dengan cara lain, mungkin hanyalah ego saya yang ingin memasuki birokrasi ini dan mencoba menjadi agen perubahan. Mungkin saya akan tiba di suatu titik saya merasa impian ini sia-sia, dan saatnya saya menyerah untuk semua ini. Mungkin ya, mungkin tidak.

 

       Hari ini…

Pertanyaan yang menggoda menandakan sebuah resah ataukah juga jawaban dari doa dan pertanyaan saya padaNya?

Saya tak yakin dan juga tak menyangka akan ada pertanyaan dan tawaran seperti itu di siang bolong ini.

Apakah saya begitu mengkhawatirkan?

Mungkin mereka khawatir, tapi saya masih merasa nyaman dengan keadaaan sekarang. Cukup memikirkan diri sendiri.

Hufht..akhirnya terselesaikan juga refleksi sejauh ini. Ibarat lagu, tulisan ini ibarat medley. Beberapa cerita menjadi satu rangkai tulisan…

Senandung doa, semoga apapun yang terjadi adalah yang terbaik yang ditetapkan olehNya. Semua terjadi untuk sebuah alasan, yang pastinya baik, dariNya. Ada pembelajaran dari semua yang terjadi…

Yakin dan percaya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s