4

Refleksi MEI Ceria….

Bulan Mei telah sampai di penghujungnya..

Begitu cepat ternyata waktu berlalu.

Sempat kemarin terpikir, apakah bulan ini benci kepada saya, ketika begitu banyak kejadian yang menyesakkan dada pada bulan ini.

Tak perlulah dirinci satu persatu, ketika rincian-rincian itu akan membuat saya kian sesak napas nantinya.hehe..

10 Mei yang lalu, tepat satu tahun sudah sejak saya pertama kali bertemu kalian.

 

Di kamar ini bersama bumil saya menghabiskan sisa malam dan hari libur saya. Kamar yang saya suka banget seprainya (sayang, ga boleh dibawa pulang tu seprai ^^; ).

Koridor yang selalu dilewati ketika harus bolak balik kamar-ruang kelas-lapangan-ruang makan.. Koridor yang terkadang tampak menyeramkan…

Ketika bertemu dengan orang-orang di sekitar saya, saya yakin bahwa Tuhan punya skenario yang indah untuk setiap pertemuan dan perkenalan itu. Akan ada pelajaran yang bisa diambil, hikmah yang bisa dipetik..

 

Istilah “Lurus grak” diciptakan siang ini…..

 

dan Ternyata yang mengaku introvert bagus juga nyanyinya (^_^) *lagunya SO7 bukan ya?*

Tetaplah berjuang kawan, untuk menjadi agen perubahan birokrasi negeri ini.

Cukuplah KuDis, KuRap, dan citra negatif PNS lain tinggal sejarah masa lalu yang tak perlu dikenang.

Indonesia harus sehat..

Indonesia harus kuat..

Inilah pengabdian kita untuk negeri…

Advertisements
0

surat E.S Ito

Saya tersentuh oleh sebuah surat yang ditulis oleh E. S Ito yang sedang beredar di internet. surat ini ditujukan untuk Firman Utina, Kapten Timnas Indonesia dan para punggawa timnas lainnya sewaktu berjuang di piala AFF (klo ga salah). sayangnya, karena sudah lama surat ini tersimpan di draft blog saya, saya jadi lupa kemarin mengcopy nya darimana. Semoga E.S Ito ridho saya mengutip kembali suratnya di sini. Karena saya terinspirasi dengan surat ini…

Berikut suratnya:

Surat Untuk Firman

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

Standard
0

Pantaskah ini dipertahankan?

saya bertahan di sini sekarang hanya untuk mereka, senyum mereka, kebahagiaan dan kebanggaan yang mereka rasakan.

Entah di bagian mana dari yang saya lakukan yang bisa membuat mereka bangga dan bahagia.

Mungkin sekedar di mana saya berada sekarang.

Ketika apa yang tampak di hadapan saya ternyata melukai idealisme saya, ketika semua menghancurkan prinsip yang selama ini saya pegang teguh, lalu apa sebenarnya yang bisa saya pertahankan.

Hanya mengingat senyum dan kebahagiaan mereka mungkin.

Ketika dengan mengambil langkah ini ternyata ada sakit yang mengiringi. Sakit yang meninggalkan luka dalam yang tak kunjung kering..

Saya kembali bertanya, apa semua ini cukup berharga untuk dipertahankan?

Saya belajar banyak tipe manusia di sini. manusia-manusia yang bertemu dan bekerja bersama saya tiap hari. Benar kata seorang partner di tempat saya dulu,  kehidupan bermasyarakat adalah sekolah terbesar dan terbaik untuk mengenal dan belajar berbagai macam tipe manusia. Ada yang baik, ada yang semaunya. Ada yang kita sukai ataupun tidak,sama dengan disukai atau tidaknya kita di mata orang lain. 

Saya melihat orang-orang yang tidak mau bertanggungjawab, saya melihat orang-orang yang hanya mau “cuci tangan”, lalu saya berpikir, untuk apa saya bertahan di tempat ini? Mungkinkah karna ini pilihan yang tersisa sekarang? Ataukah saya mulai senang di “zona aman” yang tidak aman ini? 

Ketika ada kejadian baru-baru ini, saya mulai bertanya, apakah ini jawaban Tuhan atas pertanyaan-pertanyaan saya? Ah, lagi-lagi timbul satu pertanyaan baru.

Saya ingin menunggu langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya. Itulah yang menentukan sikap saya. Kalaulah memang tak pernah ada titik temu, mungkin ini akhir perjalanan saya. Inilah titik klimaks saya, di mana saya mungkin harus mengorbankan senyum dan kebanggaan mereka yang saya sayangi. Mungkin saya tak cukup kuat untuk merubah dan mewarnai lingkungan raksasa ini dengan warna yang lebih baik dari abu-abu

0

Sebuah refleksi kehidupan…

Kematian itu hal yang paling pasti dalam hidup ini…

Belum genap 3 bulan, dan sms pagi ini kembali membuat pikiran saya melayang melintasi ruang waktu, kembali ke hari Sabtu yang mendung itu. Akad nikah pertama yang saya datangi.

Berpikir keras menentukan baju yang akan dipakai hai itu dari sedikitnya pilihan yang ada.

Perasaan haru, merinding, dan getar hati ini masih terasa ketika mengingat saat-saat “perjanjian” itu diucapkan. Rasa haru dan bahagia sang pengantin wanita, seseorang yang saya anggap kakak itu masih bisa saya rasakan.

Pesan singkat pagi ini membuyarkan. Pesan singkat yang cukup panjang, mengirimkan permintaan maaf karna terlambat memberitahukan. Pesan singkat dengan kabar yang membuat speechless. Kabar kematian.

Sang suami telah berpulang ke rahmatullah beberapa hari yang lalu. Saya tak sampai hati menanyakan penyebabnya. Hanya bisa mengirimkan ucapan belasungkawa dan doa-doa yang bisa terlafalkan.

Bahwa kematian kembali mengajarkan sesuatu.

Bahwa kematian menjadi satu paket utuh bersama kelahiran dan jodoh yang telah ditetapkan olehNya sedemikian rupa, dalam sebuah skenario sempurna.

Kemudian dari kematian pula saya mencoba memahami kompleksitas sebuah pernikahan.

Apakah saya siap jika saya kehilangan pasangan yang baru saya nikahi beberapa bulan? Apa saya siap menghadkapi kehilangan yang tidak disangka-sangka?

Ini bukanlah doa. Hanya mencoba membayangkan berada di tempat yang sama. Sanggupkah saya?

Bahwa ketika kita menghadapi pertemuan, kita harus senantiasa siap akan perpisahan.

Bahwa ketika merasakan memiliki, kita harus siap kehilangan, dan sadar sesungguhnya semua yang ada di bumi ini, semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Sang Pencipta. Bahwa pasangan, anak, harta benda, kekuasaan, dan semua hal yang kita rasa memiliki, smuanya hanya sementara dan akan kembali padaNya. Innalillahi wa inna ‘ilaihi roji’un. Semua berasal dari Allah dan kepadaNya semua kembali.


Saya berharap kabar ini hanya mimpi, tapi sungguh ini tetaplah kenyataan di mana saya harus mengambil pelajaran darinya. InsyaAllah Allah telah menetapkan yang terbaik bagi hambaNya. Dan Dia takkan memberikan ujian di luar kemampuan hambaNYa.