0

21 Ramadhan…

sudah 21 hari Ramadhan ini berlalu.

Jauh sekali dari kesempurnaan, jauh dari harapan yang terukir.

Ketika menulis tulisan ini, tepat jam 12 malam, menandai pergantian hari, menandai 25 tahun 6 bulan sudah saya berada di dunia ini.

Saya yang tak merasakan gairah Ramadhan hingga tiba di penghujungnya. Sedih, membayangkan bahwa mungkin saja ini Ramadhan terakhir yang dapat saya nikmati. Sudah lama saya tak mengingat kematian hingga jiwa saya mulai diliputi rasa congkak, angkuh dan over PD bahwa saya masih bisa menikmati Ramadhan tahun depan. Saya mulai lupa rasanya ketakutan bahwa setiap detik mungkin menjadi akhir cerita saya di dunia. Hingga datangnya kemarin, betapa sesak rasa di dada ini, membuat saya merenung, jika ini ramadhan terakhir saya, apakah seperti ini saja saya ingin melaluinya?

Tahun lalu, ketika seseorang yang belum lama saya kenal meninggal mendadak (tak ada kematian mendadak ya) menjelang Ramadhan, saya berpikir apakah tahun lalu dia sempat merasakan itulah Ramadhan terakhirnya?

Ramadhan ini, kuharap Allah melambatkan langkahnya, agar saya masih bisa bersujud panjang memohon ampun dan memanjatkan sepenggal doa dari proposal Ramadhan yang compang camping.

 

Ya Allah, ya Robbi…

2

17 ku tahun ini…

17 tahun ini tepat 17 Ramadhan..
Pagi itu tanpa upacara, meski hati ini ingin, tapi tubuh seakan melekat di tempat tidur,meski mata ini tak terpejam.

17 tahun ini,rasanya terlalu berbeda. Tak ada sensasi seperti tahun lalu. Tak ada sensasi mengikuti upacara yang diinspekturi Menteri, tak ada sensasi upacara sebagai abdi negara. Jika orang berkata sensasi pertama itu tak akan pernah terulang, saya rasa bukan itu sebabnya. Tahun ini begitu banyak yang berubah, termasuk diri saya, kecintaan saya, dan gairah pengabdian saya.

Tidak ada yang berubah mengenai cinta saya pada negeri ini.

Tak ada yang berubah.

Terkecuali keinginan saya untuk mengabdi pada negeri ini, dengan jalan yang saya tempuh sekarang. Saya mempertanyakan pengabdian ini, saya mempertanyakan cara ini,jalan ini…

Betapa banyak teman,sahabat, orang-orang di sekitar yang berusaha menguatkan saya, mengingatkan saya untuk bersyukur atas posisi saya sekarang.

66 tahun, waktu yang cukup lama, wahai Indonesia. Betapa banyak pertanyaan mengenai kemerdekaanmu, setiap kali menyongsong 17 Agustus. Kemerdekaanmu, kemerdekaan rakyatmu.

Saya bosan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Mungkin itu hanya sekadar renungan, bukan sebuah vonis sinis dan skeptis penuh kritik. Tapi bagi saya, cukupkah hanya dengan pertanyaan?

Agen Perubahan.

Apakah itu hanya mimpi saya saja? Apakah saya memang tak kan pernah bisa menjadi agen perubahan itu?

Begitu banyak yang menghancurkan idealisme saya. Begitu banyak yang membuat saya merasa tak sanggup lagi di sini. Saya ingin mengubah negeri ini, tapi tak sanggup mengubahnya dari lingkungan saya sekarang. Kadang, saya berpikir, apakah semudah itu saya dikalahkan dan menyerah? Semudah itukah saya mundur?

Saya yakin masih banyak agen perubahan di tempat saya sekarang, hingga saya tak perlu khawatir lingkungan ini akan kehilangan saya.

Indonesia.

Hanya sebuah negeri sederhana. Bukan seperti Negara Api yang penuh kuasa tapi menimbulkan ketakutan.

Indonesia, Sebuah negeri penuh potensi, penuh mimpi, penuh impian, penuh dengan manusia – yang terkadang terlalu mengagungkan kejayaan masa lalu sebagai negeri kaya raya (walaupun sebenarnya masih kaya raya), tapi tak sadar bahwa sedikit demi sedikit mulai runtuh dan jatuh miskin karna ulah beberapa rakyatnya yang tamak dan beberapa lagi yang hanya bisa bermimpi dan tidak berani bangun-.

Indonesia yang merindukan dipimpin oleh pemimpin yang Fathonah, Amanah, Siddiq, Tabligh. Pemimpin yang perkataan dan perbuatannya tak mengingkari kata hati, yang selalu takut, bukan pada polisi, KPK, BPK, tetapi pada hakim Yang Maha Adil, Allah SWT. Indonesia tidak mengharapkan pemimpin-pemimpin dan orang-orang yang hanya berani berbicara “Unqualified” tapi tindakannya masih “disclaimer“.

Indonesia, saya berharap dalam doa bahwa negeri ini layaknya raksasa yang sedang tertidur dan telah sampai di ujung mimpi panjangnya. Raksasa itu siap bangun, bangkit dan mewujudkan mimpi-mimpi indahnya.

 

Indonesia,,

Semoga segera tiba saat itu, dan semogaaaaa saya dapat menjadi bagian orang-orang yang kelak merasakan kemerdekaan dan kejayaanmu kelak…