Time to review…

Assalamu’alaykum…

Ini cerita pertama saya setelah beberapa lama. Buat mengobati jiwa saya yang sempurna sakit saat ini.. Tulisan pertama saya di tahun 2013 (mungkin salah satu tahun penting dalam hidup saya).

Kemarin saya belajar banyak hal sekaligus dari satu kejadian penting. Ceritanya saya ingin menolong seorang teman. Dia meminta tolong saya membaca tulisannya dan memberi masukan. Di awal komunikasi saya udah berkata hanya akan memberi masukan karna takut ada beda persepsi (tulisan ilmiah soalnya), dan saya hanya mengoreksi kata-kata yang salah penulisan saja.

Mulailah saya mengoreksi, sambil nunggu subuh,dan emang sedikit dibela-belain, saya kerjakan itu pukul 3 pagi sampai kira-kira jam 6 atau 6.30 pagi sebelum saya siap-siap berangkat kerja. Di kantor,waktu ikut rapat pun saya membagi konsentrasi dan masih tetap mengoreksi (bukan contoh yang baik sebenarnya..hufht..). Sore-sore sebelum pulang, saya pikir saya akan koreksi dan kirimkan hasilnya malam itu juga dari ipad saja, tapi tiba-tiba saya ingat numbering nya belum saya perbaiki. Sempat saya mengatakan pada teman saya,kalau saya akan melanjutkan numbering di rumah, tapi dia hanya diam, dan menurut saya itu konfirmasi negatif. Jadilah saya menyalakan komputer saya lagi daaaaan prosesnya tidak secepat yang saya pikir. Ada yang saya harus hapus sebelum numbering, ada yang penempatan paragraf dan pembahasan yang saya tidak tahu bagian dari yang mana. Jujur, saat itu saya ingin pulang. Saya tidak suka di ruangan sendirian malam-malam, sudah cukup juga dengan pekerjaan saya hari itu yang menguras pikiran. Setelah selesai saya kirimkan hasilnya. Saya kirimkan saran agar lain waktu proses numbering bisa dilakukan dengan mudah. Tapi ternyata reaksi yang saya dapat malah negatif. Mungkiiiin teman saya sedang lelah, dan dia bilang kalau tulisan ini harus dikumpulkan esok hari (argh pengen teriak rasanya baru tau kalau deadline nya besok). Dia berharap saya langsung mengoreksi tulisannya hingga ketika dikirimkan, dia tinggal mencetak. Saya tidak tau kalau dia bercanda atau tidak mengatakannya, tapi saya langsung sakit hati dengan reaksinya. Pengen rasanya saya teriak “AKU TUH UDAH BELA-BELAIN DAN KAMU GA MENGHARGAI ITU SAMA SEKALI. KALAU BUTUH YANG INSTAN KAYAK YG KAMU PIKIR YA JANGAN MINTA BANTUAN AKU”. Saya termasuk tipikal orang yang suka diburu-buru, dikasih kerjaan last minute. Dan rasanya bantuan kita tidak dihargai tuh……gimana ya. Saya mungkin sudah biasa kalau kerjaan di kantor tidak dihargai, tapi kalau dengan teman sendiri, yang selalu sama kita, kok ya …

Pelajaran yang bisa saya ambil:
1. Respect each other. Hargai orang lain seperti kamu ingin dihargai. Siapapun itu, mereka berhak dapat perhargaan dan rasa hormat dari kita, apalagi ketika mereka sudah menolong kita atau berusaha menolong kita.

2. Kadang kita suka lupa dengan rasa hormat ketika pertolongan mereka tidak sesuai harapan kita, tapi apapun itu, berterimakasihlah. Jangan sekali-kali mencela pertolongan mereka atau mengatakan kalau tidak perlu bantuan yang seperti itu, secara eksplisit atau implisit. Contoh yang paling dekat walaupun mungkin agak ga nyambung, adalah ketika Rasulullah SAW hendak makan dan disajikan baginya makanan yang tidak beliau suka. Beliau tidak berkomentar apapun, beliau diam dan memakan makanan lain di meja yang beliau suka. Kalau dulu saya dikasih tau, kalau memang cuma itu makanannya, ya diambil saja, tapi jangan pernah berkata kalau makanannya tidak enak atau malah makan sambil ngedumel.
Yah kurang lebih hampir sama ma contoh di atas, kalau ada bantuan, ternyata ga sesuai harapan, diterima saja, kalau sopan ya ucapkan terimakasih, kalau memang tidak ingin, jangan pernah mencela niat baik.

3. Selain karena pertolongan yang tidak sesuai harapan, ada lagi yang bikin orang suka lupa dengan rasa hormat, yaitu ketika berhadapan dengan orang yang sudah mengenal baik diri kita, bisa teman, bisa sahabat, bisa saudara, atau malah orangtua. Kita menganggap mereka sudah tau dan paham akan keinginan dan harapan kita, tapi ternyata ketika ga sesuai harapan, kita dengan seenaknya bertingkah dan kehilangan rassa hormat kita ke mereka. Jangan terus meminta dipahami posisinya, tapi cobalah juga memahami posisi dan perasaan orang lain.

4. Lain kali, harus mengurangi perasaan sensitif saya sama orang, anggap saja teman saya itu memang lagi pusing berat mikir deadline

5. Belajar komunikasi sebelum memberi atau meminta pertolongan. Apa yang diharapkan, misalnya. Kalau memang sebagai pihak yang diminta tolong kita tidak sanggup, sampaikan di awal, biar orang lain juga tidak berharap atau bisa meminta tolong pada yang lebih mampu.

Demikian postingan hari ini, smoga bisa jadi pelajaran berharga buat saya dan siapapun di masa yang akan datang.

Wallohua’lam bish showab..
Wassalamu’alaykum…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s