0

Manusia Tanpa Emosi

Assalamu’alaikum..

Menjelang pergantian hari, saya menuliskan ini, memenuhi janji #1minggu1cerita.. 8 menit saja waktu menulis. 

Pernahkah teman-teman mengalami berbagai emosi sampai pada suatu titik tak merasakan apa-apa lagi? Berekspresi hanya sekedarnya. Tak tau bagaimana atau kenapa menjadi orang yang begitu “dingin” bahkan kepada diri sendiri.

Saya pernah ada di titik ini hingga merasa “kabel” empati dalam otak saya untuk bereaksi “yang benar” lagi korslet. Saya kesulitan mengungkap kebahagiaan ketika mendengar cerita bahagia, walaupun bukan berarti saya kemudian jadi benci mendengar berita bahagia. Saya pun sulit mengekspresikan sedih ketika ada kabar duka. Sampai kadang ketika kesedihan itu melanda diri saya, dan orang-orang mengharap atau setidaknya menyangka saya akan down terpuruk, menangis, tapi itu tidak juga terjadi. Mungkin ada yang menyangka saya kuat, tapi sebenarnya tidak sih. Saya hanya kehilangan emosi yang harus saya tampilkan. 

Flat aja tuh ekspresi saya.

Ada yang pernah ngalamin ga? Trus apa yang akhirnya dilakukan?

Saya sendiri belum ketemu caranya, tapi berharap bisa segera menemukannya solusinya. Saya ingin jadi manusia lagi.. 

Advertisements
0

Passion

Assalamu’alaykum..

Kelewat 1 minggu tanpa menulis nih..ternyata lumayan susah ya ngerutinin. Kemarin baru 2 hari posting sebenarnya mau nulis lagi, eh tapi kok terlalu dekat rasanya jarak tulisannya, ditunda ntar aja malah kebablasan.. moralnya, jangan menunda melakukan suatu pekerjaan karena kita ga pernah apa yang akan kita hadapi di depan..๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜ƒ

Skip dulu ya cerita ivf nya. Karena lagi pengen cerita yang lain. Sebenarnya lebih ke personal dan mungkin kurang manfaat ya, tapi saya lagi pengen nulis ini.

Jadi, ceritanya minggu terakhir Desember 2017 kemarin saya cuti tuh, nah bertekatlah saya buat beres2 rumah. Apalagi sebelumnya saya sempet liat postingan dan kemudian cari tau metode #konmari. Konmari itu salah satu metode beberes yang diciptakan sama Marie Kondo asal Jepang. Soal metode ini sendiri insyaaAllah bakal saya ceritain di postingan yang lain ya.

Singkat cerita ya, setelah beberes ini, saya ngerasa jatuh cinta dengan beberes. Walopun masih banyak banget di rumah yg belum diberesin, tapi saya nemuin satu hal baru yang menyenangkan dan NAGIH. 

Efeknya sekarang seperti otomatis ngeletakin sesuatu pada tempatnya. Biasanya agak sembarangan ya dan karena semua barang disatukan di satu tempat berdasarkan jenisnya,makinlah jadi berasa rapi. 

Dan ini ngaruh juga ke pekerjaan ternyata. Sekarang rasanya mulai fokus mengerjakan satu per satu secara runut, padahal sebelumnya bosenan. Buat to do list sebelum memulai pekerjaan. “Mengelompokkan” pekerjaan satu persatu sesuai jenisnya. Dan mungkin untuk pertama kalinya saya benar-benar ngerasain passion di sini. 

Jadi ingat juga pertama kali dikasih tanggungjawab ngurus laporan keuangan eselon 1 dulu, senior ga ninggalin apa-apa, dan mulailah saya membuat kertas kerja macam-macam. Bukannya bangga atau gimana ya, tapi membuat sistem, memanage sesuatu rasanya bikin saya happy aja. Walopun kemudian emang buatnya harus nyicil dikit-dikit, tapi namanya senang ya jadi ga ada beban aja.

Mungkin suatu saat pengen banget bisa kerja yang kurang lebih melakukan sesuatu yang bikin happy seperti yang saya gambarkan tadi ya, ga tau ada atau ga kerjaan kayak gitu. Hahhaha..

Hampir 8 tahun kerja di tempat yang sama, dibilang ga jenuh, pasti bohong kan. Pengen sesuatu yang menantang sebelum terlanjur nyaman di zona nyaman. Menemukan passion “beberes” ini seperti oase mungkin, lebay ya, tapi buat saya yang jenuh ini semacam pengalihan yang menyenangkan.

Saya doakan yang sekarang lg jenuh juga dengan rutinitasnya bisa menemukan sesuatu yang menarik yang bisa jadi passionnya. 

Terkadang, passion, hobi, kesenangan kita mungkin akan dianggap remeh oleh orang lain, tapi selama masih di jalan yang benar, sesuai syariat, tetaplah yakin dan carilah berkahNya pada passion atau hobi atau apapun jenis kesenangan itu ya..
Salam

0

Orangtua Hebat

Assalamu’alaikum…

Seperti biasa saya bingung ketika mencari judul yang tepat untuk tulisan ini. Cuma rasanya udah gatel buat nulis ya.

Memasuki 1 minggu pertama after my Embrio Transfer (yg insyaa Allah bakal diceritain nanti di postingan khusus ya), menurut saya masuk ke tahap H2C banget.. Padahal ya sebenarnya ga boleh mikir macem2 ya, tapi begitulah.

Di tahap ini, mulai ngerasain bahwa proses jadi orangtua itu dari awal ga pernah semudah yg dibayangkan. Dari bahkan saat merencanakan menjadi orang tua, itu berarti kita harus siap menghadapi apapun yang akan terjadi di masa depan bersama anak kita. Hal baik bahkan hal buruk sekalipun. 

Terkadang bayangan-bayangan sulitnya menjadi orangtua menghantui pikiran saya, tapi saya entah kenapa yakin bahwa kebahagian menjadi orangtua akan melebihi segala kekhawatiran dan akan selalu menjadi kekuatan kelak ketika mengahadapi segala “kesulitan”.

Ditulis pertama kali di Semarang, 30 September 2017

Dilengkapi di Bintaro, 22 Desember 2017

(entah kenapa malah pas hari ibu.. Hehe) 

1

Selayang pandangย 

Assalamu’alaikum..

Maafkan blog ini yang udah 2 tahun lebih  ga tersentuh ya. Menemukan hasrat nulis agak sulit emang. Banyak yang mau ditulis tapi kalau udah tertunda akhirnya ya tinggal rencana aja. Hahaha..

Tapi jujur banyak yang akhirnya saya sesali, karena mengandalkan memori otak aja ga cukup untuk membuat saya ingat untuk setiap momen ๐Ÿ˜ฆ

Jadiii,mumpung lg ada motivasi menulis lagi setelah ikut kulwap Learning Mama-Mama Menulis, yuks lah sekarang mulai nulis lagi yaa..

Sementara sekian dulu ya. 

Bintaro, 9 Desember 2017

0

surat E.S Ito

Saya tersentuh oleh sebuah surat yang ditulis oleh E. S Ito yang sedang beredar di internet. surat ini ditujukan untuk Firman Utina, Kapten Timnas Indonesia dan para punggawa timnas lainnya sewaktu berjuang di piala AFF (klo ga salah). sayangnya, karena sudah lama surat ini tersimpan di draft blog saya, saya jadi lupa kemarin mengcopy nya darimana. Semoga E.S Ito ridho saya mengutip kembali suratnya di sini. Karena saya terinspirasi dengan surat ini…

Berikut suratnya:

Surat Untuk Firman

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

1

Hello world!

Bayi kecilku telah lahir.

Dia baru belajar melihat dunia dengan mata kecilnya.

Mungkin masih tak sempurna dalam melihat, mungkin masih terlalu sederhana sudut pandangnya.

Maka, ijinkanlah di dunia kecilnya ini dia belajar berbagai hal.

Ingatkanlah jika ia salah melangkah atau salah persepsi..