0

newly wed (1)

Orang berumahtangga itu pasti ada aja ceritanya. Saya baru menjalaninya 1 bulan lebih 24 hari. Masih blum ada apa-apanya. Hari ini misalnya.

Kisahnya sangat sepele. Pengennya pulang dinas hari ini ada dia yang menjemput di kantor,tapi malah ga jadi. Padahal kalau mau pulang sendiri tadi saya bs minta diturunkan di lokasi yg strategis trus tinggal naik taksi ke rumah.

Mungkin saya juga yang jadi membesar-besarkan masalah. Intinya sih,saya berharap dan bergantung pada dia hari ini, hingga saya membuang pilihan lain yang sebenarnya sangat bagus. Dan ternyata,harapan saya pupus begitu saja. Alloh menakdirkan yang lain. Mengajarkan saya kembali pada pelajaran dasar tentang harapan: “JANGAN MENGGANTUNGKAN HARAPAN PADA MAKHLUK MANAPUN (termasuk suami), HANYA kpd ALLOH saja tempat BERHARAP”.. Bahkan untuk hal sekecil apapun. TRUST me.

Saya intropeksi aja hari ini,untuk smua kputusan yang saya ambil. Kalau lagi marah, mending jangan pulang dulu. Saya putuskan menyalurkan energi Negatif saya dengan bekerja. Mungkin saya yang lagi sensitif tingkat propinsi mengingat banyak masalah kantor beberapa hari ini yang meneror pikiran saya. Giliran mau pulang, saya berharap bisa mencium tangannya, menemukan dia tersenyum pada saya, atau sekedar mengelus kepala saya,cukup itu untuk meyakinkan smua akan baik-baik saja. Tapi sayangnya,itu gak terjadi. Dan yang tersisa dari harapan adalah kecewa.

There is always a good reason for everything…

Good point pekerjaan saya untuk hari senin bisa saya selesaikan hari ini. Hurray…
Alhamdulillah..

Advertisements
0

Being Married

Sejak dulu,saya selalu membayangkan seperti apa dia. Seperti apa saya akan menghabiskan hari bersamanya.

Pertengkaran,kecewa itu ada. Hadir dengan pasti di usia kebersamaan kami yang masih sangat singkat.

Tapi….
Rasa bahagia,tenang,tentram mengetahui dia ada di sisi saya itu hal tak ternilai. Itu yang menguatkan ketika saya harus jauh darinya. Ketika rasa sesak,lelah ini datang,sampai saya tidak sanggup menahan airmata,ada pengertian di sana. Tangannya lembut mengusap kepala saya, dan usapan itu sudah mengungkap smua kata motivasi yang bs terucap.

Impian saya sederhana. Saya ingin jadi istri dan ibu yang baik, dan impian itulah tujuan saya sekarang..

I Love U,dear…

0

Travelicious, kampus malam…

Berkunjung ke sebuah kampus malam ini setelah sekian lama tak menangkap suasana riuh kampus. Entah terasing ataupun tidak, terlepas dari sudah hampir 5 tahun tahun aku tak terlibat dalam segala riuh dan kecerian kampus.
Berasa tua sebenarnya,mana main ke sini pas masih pake seragam kantor -yang enggak banget itu-. Tapi agak terhibur ketika seorang mahasiswa memanggil dengan sebutan “kak” saat menanyakan password wifi kampus ini. Yah sekali lagi terlepas dari itu hanya sopan santun atau memang saya yang tampak lebih muda hari ini. Hahaha… *menghibur diri.

Tidak, kalau ada yang tanya apa saya sedang melanjutkan kuliah lagi sekarang. Ini hanya salah satu kunjungan main ke kampus buat nemenin teman ngisi KRS. Rata-rata berpakaian selayaknya anak kuliah di sini. Santai, kasual namun tetap sopan. Ada juga yang hanya memakai kaos, atau malah masih memakai pakaian kerja. Memang cukup banyak karyawan yang melanjutkan kuliah di kampus ini.

Saya menikmati jalan-jalan kampus kali ini. Kebetulan di depan saya ada tiga orang yang sedang mengobrol asyik. Gadis yang memakai jilbab, yang sedang mengobrol itu, penampilannya menarik mata saya untuk mengamatinya. Sederhana saja. Dia memakai kaos ungu.agak longgar tidak seperti manset yang ngepres, kaosnya dimasukkan ke dalam wing skirt bahan kaos (saya tak tau namanya), jilbab bahan kaos sepertinya, dililit apik cocok dengan bentuk wajahnya. Saya bener-bener suka dengan wing skirt nya..

Ah satu hal yang mengganggu saya malam ini adalah rokok dimana-mana. Kapan sih bisa bebas rokok untuk ruang-ruang publik. Saya berdoa makin banyak yang sadar asap rokoknya mengganggu..amiin :).

Jalan-jalan malam ini membangkitkan kenangan, membuat saya merindu masa-masa kuliah. Yah mungkin sedikit membangkitkan keinginan untuk melanjutkan kuliah lagi. Smoga suatu saat bisa terwujud. Buat jangka pendek,keinginan saya cuma pengen beli wing skirt kaos itu…hehehe 🙂

0

Time to review…

Assalamu’alaykum…

Ini cerita pertama saya setelah beberapa lama. Buat mengobati jiwa saya yang sempurna sakit saat ini.. Tulisan pertama saya di tahun 2013 (mungkin salah satu tahun penting dalam hidup saya).

Kemarin saya belajar banyak hal sekaligus dari satu kejadian penting. Ceritanya saya ingin menolong seorang teman. Dia meminta tolong saya membaca tulisannya dan memberi masukan. Di awal komunikasi saya udah berkata hanya akan memberi masukan karna takut ada beda persepsi (tulisan ilmiah soalnya), dan saya hanya mengoreksi kata-kata yang salah penulisan saja.

Mulailah saya mengoreksi, sambil nunggu subuh,dan emang sedikit dibela-belain, saya kerjakan itu pukul 3 pagi sampai kira-kira jam 6 atau 6.30 pagi sebelum saya siap-siap berangkat kerja. Di kantor,waktu ikut rapat pun saya membagi konsentrasi dan masih tetap mengoreksi (bukan contoh yang baik sebenarnya..hufht..). Sore-sore sebelum pulang, saya pikir saya akan koreksi dan kirimkan hasilnya malam itu juga dari ipad saja, tapi tiba-tiba saya ingat numbering nya belum saya perbaiki. Sempat saya mengatakan pada teman saya,kalau saya akan melanjutkan numbering di rumah, tapi dia hanya diam, dan menurut saya itu konfirmasi negatif. Jadilah saya menyalakan komputer saya lagi daaaaan prosesnya tidak secepat yang saya pikir. Ada yang saya harus hapus sebelum numbering, ada yang penempatan paragraf dan pembahasan yang saya tidak tahu bagian dari yang mana. Jujur, saat itu saya ingin pulang. Saya tidak suka di ruangan sendirian malam-malam, sudah cukup juga dengan pekerjaan saya hari itu yang menguras pikiran. Setelah selesai saya kirimkan hasilnya. Saya kirimkan saran agar lain waktu proses numbering bisa dilakukan dengan mudah. Tapi ternyata reaksi yang saya dapat malah negatif. Mungkiiiin teman saya sedang lelah, dan dia bilang kalau tulisan ini harus dikumpulkan esok hari (argh pengen teriak rasanya baru tau kalau deadline nya besok). Dia berharap saya langsung mengoreksi tulisannya hingga ketika dikirimkan, dia tinggal mencetak. Saya tidak tau kalau dia bercanda atau tidak mengatakannya, tapi saya langsung sakit hati dengan reaksinya. Pengen rasanya saya teriak “AKU TUH UDAH BELA-BELAIN DAN KAMU GA MENGHARGAI ITU SAMA SEKALI. KALAU BUTUH YANG INSTAN KAYAK YG KAMU PIKIR YA JANGAN MINTA BANTUAN AKU”. Saya termasuk tipikal orang yang suka diburu-buru, dikasih kerjaan last minute. Dan rasanya bantuan kita tidak dihargai tuh……gimana ya. Saya mungkin sudah biasa kalau kerjaan di kantor tidak dihargai, tapi kalau dengan teman sendiri, yang selalu sama kita, kok ya …

Pelajaran yang bisa saya ambil:
1. Respect each other. Hargai orang lain seperti kamu ingin dihargai. Siapapun itu, mereka berhak dapat perhargaan dan rasa hormat dari kita, apalagi ketika mereka sudah menolong kita atau berusaha menolong kita.

2. Kadang kita suka lupa dengan rasa hormat ketika pertolongan mereka tidak sesuai harapan kita, tapi apapun itu, berterimakasihlah. Jangan sekali-kali mencela pertolongan mereka atau mengatakan kalau tidak perlu bantuan yang seperti itu, secara eksplisit atau implisit. Contoh yang paling dekat walaupun mungkin agak ga nyambung, adalah ketika Rasulullah SAW hendak makan dan disajikan baginya makanan yang tidak beliau suka. Beliau tidak berkomentar apapun, beliau diam dan memakan makanan lain di meja yang beliau suka. Kalau dulu saya dikasih tau, kalau memang cuma itu makanannya, ya diambil saja, tapi jangan pernah berkata kalau makanannya tidak enak atau malah makan sambil ngedumel.
Yah kurang lebih hampir sama ma contoh di atas, kalau ada bantuan, ternyata ga sesuai harapan, diterima saja, kalau sopan ya ucapkan terimakasih, kalau memang tidak ingin, jangan pernah mencela niat baik.

3. Selain karena pertolongan yang tidak sesuai harapan, ada lagi yang bikin orang suka lupa dengan rasa hormat, yaitu ketika berhadapan dengan orang yang sudah mengenal baik diri kita, bisa teman, bisa sahabat, bisa saudara, atau malah orangtua. Kita menganggap mereka sudah tau dan paham akan keinginan dan harapan kita, tapi ternyata ketika ga sesuai harapan, kita dengan seenaknya bertingkah dan kehilangan rassa hormat kita ke mereka. Jangan terus meminta dipahami posisinya, tapi cobalah juga memahami posisi dan perasaan orang lain.

4. Lain kali, harus mengurangi perasaan sensitif saya sama orang, anggap saja teman saya itu memang lagi pusing berat mikir deadline

5. Belajar komunikasi sebelum memberi atau meminta pertolongan. Apa yang diharapkan, misalnya. Kalau memang sebagai pihak yang diminta tolong kita tidak sanggup, sampaikan di awal, biar orang lain juga tidak berharap atau bisa meminta tolong pada yang lebih mampu.

Demikian postingan hari ini, smoga bisa jadi pelajaran berharga buat saya dan siapapun di masa yang akan datang.

Wallohua’lam bish showab..
Wassalamu’alaykum…

0

Hijab dan saya…

Saya pertama kali jatuh cinta dengan hijab saat saya kelas 2 SMA. Masih cupu kali ya waktu itu.hehe.. Ceritanya pas pesantren kilat di sekolah, dan sebagai pengurus ROHIS yang baik (lebay ini :p) jadilah petugas amil zakat merangkap petugas wira wiri.hehe..
Awalnya karena rasa risih,ga enak,malu wira wiri di masjid tapi ga pakai kerudung yang benar. Cuma kain panjang yang disampirkan begitu saja menutupi kepala (padahal rambut juga masih tampak jelas..hikss). Kemeja lengannya juga paling 7/8 (jarang punya kemeja lengan panjang dulu) plus celana jeans,,fiiuuh *menghela nafas. Suatu sore mulailah saya belajar menggunakan kerudung (atau lebih sering disebut jilbab) dengan lebih baik, berguru sama adik kelas saya waktu itu (angkatan saya anak rohis nya belum pada pakai waktu itu). Tidak lagi kerudung seadanya yang hanya asal disampirkan, tapi menggunakan kain segiempat dilipat menjadi segitiga, menutup sempurna.
Perasaan saya biasa saja saat itu. Toh hanya dipakai saat acara sekolah, ramadhan itu. Banyak komentar muncul, ada yang bilang saya lebih cantik pakai jilbab (ciieeee…). Hampir sepanjang sisa ramadhan saya selalu menggunakan kerudung seperti itu. Witing tresno jalaran soko kulino, cinta itu datang karna terbiasa. Itulah cinta pertama saya pada hijab. Hingga ketika ramadhan berakhir, saya beranikan mengajuka permintaan pada ibu saya. Saya ingin mulai memakai hijab,kerudung,busana muslimah,kemana pun,kapan pun. Tapi sayang, jiwa ababil saya ternyata masih begitu dominan. Ketika ibu saya mengatakan tidak dengan berbagai alasan, saya pun tidak berargumen sama sekali.

Sedikit flashback, saya menganggap hijab itu bukan sesuatu yang wajib. Sedikit gambaran, jaman saya kecil yang pakai hijab itu biasanya ibu-ibu atau nenek-nenek, itupun seringnya yang udah naik haji. Contoh paling nyata dari keluarga terdekat saya. Dan bertahun-tahun belajar agama di sekolah, ga pernah deh seingat saya tentang kewajiban berhijab. Apa mungkin saya yang tidur atau lupa kali ya. Dulu waktu saya SMP, teman dekat saya bilang, dia mau berhijab SMA nanti, karna berhijab itu wajib, dan kakak perempuannya pun sudah mulai berhijab. Itu pertama kali saya tahu dan kemudian berjanji ingin ikut berhijab bersamanya SMA nanti. Tapi keinginan itu terlupakan karna kemudian saya pindah sekolah. Yah, saya mulai melihat mbak-mbak yang berhijab itu ya baru ketika saya masuk SMA. Kakak kelas saya yang anak ROHIS rata-rata berhijab. Pun mbak yang mengisi taklim (mentoring, halaqoh). Tapi ga ada pikiran tuh tentang janji berhijab (astaghfirulloh,bandel banget ini..).

Sejak ramadhan itu saya mulai memakai kerudung yang benar ketika acara-acara Rohis. Yah belum bisa dibilang berhijab yang bener sih, soalnya kemana mana ga pernah lepas dari yang namanya jeans, pake rok itu cuma rok sekolah.hehe..

Buat saya, hijab itu identitas ketika kemudian saya memutuskan berhijab November 2003. Jauh lebih lama dari ketika pertama kali saya merencanakannya. Saat awal-awalpun saya masih sering bandel ga jilbaban kalau cuma sekedar keluar ambil koran (pake acara ngintip dulu kalau ada cowok lewat) *tobat…

Titik balik saya untuk tidak menunda lagi karena kata-kata dari temen kuliah saya waktu kami lagi ngerjain tugas bareng. Katanya kurang lebih “kalau ditanya kenapa belum berhijab,orang bilang karena belum siap, nah kalau ditanya kapan siapnya, orang pada ga bisa jawab kan. Kamu sendiri kapan siapnya wi?”. Kalau ini adegan di komik,mungkin ada pisau yang menusuk jantung saya ‘mak jleb’. Sempat terbebani dengan kelakuan dan sifat saya yang masih kayak ababil dan temperamen, takut merusak citra berhijab. Masa jilbaban tapi suka marah-marah,jutek, labil, ibadahnya masih compang camping. Tapi kata murobbiyah ato mentor saya waktu itu, justru dengan berhijab kita jadi memotivasi diri kita buat jadi lebih baik, beribadah dan bersikap lebih baik seperti akhlak yang memang diajarkan dalam Islam. Kalau ngajinya masi belum tartil ya belajar, kalau sholat masi jarang dan ga tepat waktu ya mulai disiplin. Intinya kita berhijab sambil terus memperbaiki diri. Kalau kita nunggu baik dulu baru berhijab,mau sampai kapan? Karena pada dasarnya tingkat kepuasan manusia itu ga terbatas dan ukuran baik itupun relatif, kadang bagi orang yang melihat udah baik, tapi kalau orang itu sendiri belum menilai dirinya cukup baik,yah orang tersebut akan cenderung memakai penilaiannya kan. Nanti akan lahir kalimat “ah saya masih kurang ini,belum itu, jadi belum pantas berhijab”… Ah..

Soal masalah-masalah yang muncul di awal berjilbab biasanya sih soal pakaian. Koleksi pakaian saya ga banyak. Waktu ada niat berhijab emang udah mulai milih baju yang lengan panjang. Tapi itupun kan baru beberapa. Mau beli baju baru ga enak minta uang ke ortu. Jadilah, awal saya berhijab, dalam 6 hari kuliah, baju saya paling ya itu-itu saja. Baju hari senin misalnya, pulang kuliah langsung dicuci, nanti hari kamis ato jumat saya pake lagi. Pokoknya selalu ada pengulangan pemakaian baju. Bongkar lemari, ketemu baju lama ibu atau malah kakak cowok saya, ya itu aja yang saya pakai, yang penting lengan panjang. Kalau jilbab biasanya tunggu bazar di kampus, ada yang jual jilbab murah dan tebal (jadi ga perlu di dobel karena saya ga pintar pakai hijab yang rangkap-rangkap). Soal jeans, saya masih pakai sampai semester 3 atau 4, sisanya pakai rok atau celana kain (kalau sikon tertentu). Alhamdulillah sekarang udah bisa beli baju sendiri, walaupun masih sering juga membongkar lemari dan nemu baju lama ibu yang bisa dipakai :p .

Soal muslimah berhijab penampilannya norak, kelihatan tua, eits nanti dulu. Sekarang banyak para hijabers yang tampil modis, cantik dan syar’i. Udah banyak banget busana muslimah buat hijabers yang dijual dengan harga terjangkau sekarang. Yang kita lakukan tinggal memilih dan memilahnya, mana yang sesuai dan tidak sesuai dengan syariat busana muslimah. Niat yang baik untuk berhijab harus disertai tindakan berhijab secara baik pula. Banyak panduan yang mengajarkan kita berhijab tetapi semua kita kembalikan lagi sama bagaimana Alloh mengatur ya sis..

Soal kerjaan. Jangan pernah takut ga bakal dapat kerja dengan jilbab. Saya cuek saja dengan jilbab saya ketika saya melamar kerja di KAP,manajer saya waktu itu etnis tionghoa, dan beliau menghargai penampilan saya. Hijab justru membuat saya tidak bisa dinali dari penampilan fisik saja, tetapi membuat orang menilai kemampuan saya.

Hijab saya sekarang memang masih jauuuuuuuh dari sempurna. Kelakuan dan ibadah sayapun masih tahap perbaikan terus menerus. Tapi tidak pernah terpikir untuk melepasnya, walaupun ada teman kos yang pernah bilang kalau saya lebih cantik ga pake hijab. Waktu itu saya sempat geli, agak sebel juga sih, tapi dalam hati saya bersyukur, kalau gitu kecantikan saya hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang berhak saja 😀

Saya bersyukur diberi kemudahan dalam berhijab. Banyak yang ingin berhijab tetapi mendapat tentangan dari keluarga ataupun lingkungannya. Di bagian dunia yang lain bahkan ada yang terancam nyawanya ketika dia memutuskan berhijab. Saya bersyukur, saya tumbuh di lingkungan yang sangat baik, tidak ada ancaman apapun ketika saya ingin berhijab. Hijab bukan sekedar kain panjang yang saya julurkan menutupi tubuh saya, bagi saya, inilah identitas saya.

Sungguh saya masih sangat jauuuuuuuuuh dari sempurna, begitupun hijab saya. Tapi selalu ada proses evaluasi dan perbaikan diri sampai kain kafan yang menjadi penutup dan hijab bagi saya kelak..insyaAlloh…

0

13.12.11

13.12.11 ternyata angka hitungan mundur…
Ada doa yang lamat-lamat dipanjatkan.
Ketika angka cantik tlah lewat dan penyempurnaan yang separuh belum tiba waktunya..

Berharap ketika susunan angka itu dibalik,yang separuh pun telah digenapkan..
Tapi berharap tak perlu selama itu tuk menyempurnakannya..

Suatu penyempurnaan semata karna Allah, bukan sekedar fisik,perhatian,kasih sayang,keluarga,nasab,harta,tetapi di atas segalanya adalah akhlak dan agamanya..

Dan Karena-Nya kita membangun cinta kita kelak.

Smoga Alloh telah menuliskan tuk mempertemukan kita di suatu waktu.

Dan mungkin dunia kita kan menjadi begitu sempit rasanya saat itu..

Huruf ta.

0

puding coklat dan teh hangat

Ini adalah sebuah janji di masa lalu. Menyajikan sepiring puding coklat dan secangkir teh manis hangat kepada seorang spesial.

Sebuah janji yang tak kan terwujud untuk seseorang.

Dan sebuah janji yang belum terwujud untuk seorang spesial yang belum boleh disebut namanya.

Janji itu.
Lebih dari sekedar puding coklat biasa.
Lebih dari secangkir teh hangat.