0

Hijab dan saya…

Saya pertama kali jatuh cinta dengan hijab saat saya kelas 2 SMA. Masih cupu kali ya waktu itu.hehe.. Ceritanya pas pesantren kilat di sekolah, dan sebagai pengurus ROHIS yang baik (lebay ini :p) jadilah petugas amil zakat merangkap petugas wira wiri.hehe..
Awalnya karena rasa risih,ga enak,malu wira wiri di masjid tapi ga pakai kerudung yang benar. Cuma kain panjang yang disampirkan begitu saja menutupi kepala (padahal rambut juga masih tampak jelas..hikss). Kemeja lengannya juga paling 7/8 (jarang punya kemeja lengan panjang dulu) plus celana jeans,,fiiuuh *menghela nafas. Suatu sore mulailah saya belajar menggunakan kerudung (atau lebih sering disebut jilbab) dengan lebih baik, berguru sama adik kelas saya waktu itu (angkatan saya anak rohis nya belum pada pakai waktu itu). Tidak lagi kerudung seadanya yang hanya asal disampirkan, tapi menggunakan kain segiempat dilipat menjadi segitiga, menutup sempurna.
Perasaan saya biasa saja saat itu. Toh hanya dipakai saat acara sekolah, ramadhan itu. Banyak komentar muncul, ada yang bilang saya lebih cantik pakai jilbab (ciieeee…). Hampir sepanjang sisa ramadhan saya selalu menggunakan kerudung seperti itu. Witing tresno jalaran soko kulino, cinta itu datang karna terbiasa. Itulah cinta pertama saya pada hijab. Hingga ketika ramadhan berakhir, saya beranikan mengajuka permintaan pada ibu saya. Saya ingin mulai memakai hijab,kerudung,busana muslimah,kemana pun,kapan pun. Tapi sayang, jiwa ababil saya ternyata masih begitu dominan. Ketika ibu saya mengatakan tidak dengan berbagai alasan, saya pun tidak berargumen sama sekali.

Sedikit flashback, saya menganggap hijab itu bukan sesuatu yang wajib. Sedikit gambaran, jaman saya kecil yang pakai hijab itu biasanya ibu-ibu atau nenek-nenek, itupun seringnya yang udah naik haji. Contoh paling nyata dari keluarga terdekat saya. Dan bertahun-tahun belajar agama di sekolah, ga pernah deh seingat saya tentang kewajiban berhijab. Apa mungkin saya yang tidur atau lupa kali ya. Dulu waktu saya SMP, teman dekat saya bilang, dia mau berhijab SMA nanti, karna berhijab itu wajib, dan kakak perempuannya pun sudah mulai berhijab. Itu pertama kali saya tahu dan kemudian berjanji ingin ikut berhijab bersamanya SMA nanti. Tapi keinginan itu terlupakan karna kemudian saya pindah sekolah. Yah, saya mulai melihat mbak-mbak yang berhijab itu ya baru ketika saya masuk SMA. Kakak kelas saya yang anak ROHIS rata-rata berhijab. Pun mbak yang mengisi taklim (mentoring, halaqoh). Tapi ga ada pikiran tuh tentang janji berhijab (astaghfirulloh,bandel banget ini..).

Sejak ramadhan itu saya mulai memakai kerudung yang benar ketika acara-acara Rohis. Yah belum bisa dibilang berhijab yang bener sih, soalnya kemana mana ga pernah lepas dari yang namanya jeans, pake rok itu cuma rok sekolah.hehe..

Buat saya, hijab itu identitas ketika kemudian saya memutuskan berhijab November 2003. Jauh lebih lama dari ketika pertama kali saya merencanakannya. Saat awal-awalpun saya masih sering bandel ga jilbaban kalau cuma sekedar keluar ambil koran (pake acara ngintip dulu kalau ada cowok lewat) *tobat…

Titik balik saya untuk tidak menunda lagi karena kata-kata dari temen kuliah saya waktu kami lagi ngerjain tugas bareng. Katanya kurang lebih “kalau ditanya kenapa belum berhijab,orang bilang karena belum siap, nah kalau ditanya kapan siapnya, orang pada ga bisa jawab kan. Kamu sendiri kapan siapnya wi?”. Kalau ini adegan di komik,mungkin ada pisau yang menusuk jantung saya ‘mak jleb’. Sempat terbebani dengan kelakuan dan sifat saya yang masih kayak ababil dan temperamen, takut merusak citra berhijab. Masa jilbaban tapi suka marah-marah,jutek, labil, ibadahnya masih compang camping. Tapi kata murobbiyah ato mentor saya waktu itu, justru dengan berhijab kita jadi memotivasi diri kita buat jadi lebih baik, beribadah dan bersikap lebih baik seperti akhlak yang memang diajarkan dalam Islam. Kalau ngajinya masi belum tartil ya belajar, kalau sholat masi jarang dan ga tepat waktu ya mulai disiplin. Intinya kita berhijab sambil terus memperbaiki diri. Kalau kita nunggu baik dulu baru berhijab,mau sampai kapan? Karena pada dasarnya tingkat kepuasan manusia itu ga terbatas dan ukuran baik itupun relatif, kadang bagi orang yang melihat udah baik, tapi kalau orang itu sendiri belum menilai dirinya cukup baik,yah orang tersebut akan cenderung memakai penilaiannya kan. Nanti akan lahir kalimat “ah saya masih kurang ini,belum itu, jadi belum pantas berhijab”… Ah..

Soal masalah-masalah yang muncul di awal berjilbab biasanya sih soal pakaian. Koleksi pakaian saya ga banyak. Waktu ada niat berhijab emang udah mulai milih baju yang lengan panjang. Tapi itupun kan baru beberapa. Mau beli baju baru ga enak minta uang ke ortu. Jadilah, awal saya berhijab, dalam 6 hari kuliah, baju saya paling ya itu-itu saja. Baju hari senin misalnya, pulang kuliah langsung dicuci, nanti hari kamis ato jumat saya pake lagi. Pokoknya selalu ada pengulangan pemakaian baju. Bongkar lemari, ketemu baju lama ibu atau malah kakak cowok saya, ya itu aja yang saya pakai, yang penting lengan panjang. Kalau jilbab biasanya tunggu bazar di kampus, ada yang jual jilbab murah dan tebal (jadi ga perlu di dobel karena saya ga pintar pakai hijab yang rangkap-rangkap). Soal jeans, saya masih pakai sampai semester 3 atau 4, sisanya pakai rok atau celana kain (kalau sikon tertentu). Alhamdulillah sekarang udah bisa beli baju sendiri, walaupun masih sering juga membongkar lemari dan nemu baju lama ibu yang bisa dipakai :p .

Soal muslimah berhijab penampilannya norak, kelihatan tua, eits nanti dulu. Sekarang banyak para hijabers yang tampil modis, cantik dan syar’i. Udah banyak banget busana muslimah buat hijabers yang dijual dengan harga terjangkau sekarang. Yang kita lakukan tinggal memilih dan memilahnya, mana yang sesuai dan tidak sesuai dengan syariat busana muslimah. Niat yang baik untuk berhijab harus disertai tindakan berhijab secara baik pula. Banyak panduan yang mengajarkan kita berhijab tetapi semua kita kembalikan lagi sama bagaimana Alloh mengatur ya sis..

Soal kerjaan. Jangan pernah takut ga bakal dapat kerja dengan jilbab. Saya cuek saja dengan jilbab saya ketika saya melamar kerja di KAP,manajer saya waktu itu etnis tionghoa, dan beliau menghargai penampilan saya. Hijab justru membuat saya tidak bisa dinali dari penampilan fisik saja, tetapi membuat orang menilai kemampuan saya.

Hijab saya sekarang memang masih jauuuuuuuh dari sempurna. Kelakuan dan ibadah sayapun masih tahap perbaikan terus menerus. Tapi tidak pernah terpikir untuk melepasnya, walaupun ada teman kos yang pernah bilang kalau saya lebih cantik ga pake hijab. Waktu itu saya sempat geli, agak sebel juga sih, tapi dalam hati saya bersyukur, kalau gitu kecantikan saya hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang berhak saja 😀

Saya bersyukur diberi kemudahan dalam berhijab. Banyak yang ingin berhijab tetapi mendapat tentangan dari keluarga ataupun lingkungannya. Di bagian dunia yang lain bahkan ada yang terancam nyawanya ketika dia memutuskan berhijab. Saya bersyukur, saya tumbuh di lingkungan yang sangat baik, tidak ada ancaman apapun ketika saya ingin berhijab. Hijab bukan sekedar kain panjang yang saya julurkan menutupi tubuh saya, bagi saya, inilah identitas saya.

Sungguh saya masih sangat jauuuuuuuuuh dari sempurna, begitupun hijab saya. Tapi selalu ada proses evaluasi dan perbaikan diri sampai kain kafan yang menjadi penutup dan hijab bagi saya kelak..insyaAlloh…

0

21 Ramadhan…

sudah 21 hari Ramadhan ini berlalu.

Jauh sekali dari kesempurnaan, jauh dari harapan yang terukir.

Ketika menulis tulisan ini, tepat jam 12 malam, menandai pergantian hari, menandai 25 tahun 6 bulan sudah saya berada di dunia ini.

Saya yang tak merasakan gairah Ramadhan hingga tiba di penghujungnya. Sedih, membayangkan bahwa mungkin saja ini Ramadhan terakhir yang dapat saya nikmati. Sudah lama saya tak mengingat kematian hingga jiwa saya mulai diliputi rasa congkak, angkuh dan over PD bahwa saya masih bisa menikmati Ramadhan tahun depan. Saya mulai lupa rasanya ketakutan bahwa setiap detik mungkin menjadi akhir cerita saya di dunia. Hingga datangnya kemarin, betapa sesak rasa di dada ini, membuat saya merenung, jika ini ramadhan terakhir saya, apakah seperti ini saja saya ingin melaluinya?

Tahun lalu, ketika seseorang yang belum lama saya kenal meninggal mendadak (tak ada kematian mendadak ya) menjelang Ramadhan, saya berpikir apakah tahun lalu dia sempat merasakan itulah Ramadhan terakhirnya?

Ramadhan ini, kuharap Allah melambatkan langkahnya, agar saya masih bisa bersujud panjang memohon ampun dan memanjatkan sepenggal doa dari proposal Ramadhan yang compang camping.

 

Ya Allah, ya Robbi…

2

JUNI, JUNE…..

what a beautiful June….

Tanggal 6 Juni pertamakalinya menginjakkan kaki di tanah Lampung.

Kota kecil tapi padat..

Cuma sebentar, belum sempat main ke objek wisatanya. Tapi berjanji dalam hati akan kembali ke sana suatu saat, tapi untuk berlibur.hehe..

Daaaaan,,,,,,,tanggal 8 kemarin lengkaplah sudah angka 80% itu….

100 %, finally!!!!

 

 

0

Impian, refleksi 1/4 abad

# Terlalu banyak mimpi dan impian selayaknya anak muda yang penuh ambisi

Saya begitu speechless saat membaca notes milik teman saya di FB. Kehidupannya sebagai pengajar, di samping sebagai abdi bagi negara ini. Saya iri, jujur saja, karna melihat seseorang yang punya passion seperti yang dia miliki. Passion yang saya tangkap di setiap dia menceritakan kisahnya di sekolah. Bahkan ketika dia menuangkan kesahnya, tapi bagi saya semua tampak wajar.

Kemudian beranjak pada kisah teman-teman saya di KAP dulu.

Ada yang tahun ini berencana masuk big 4, sesuatu yang sempat singgah di benak saya 5 tahun yang lalu, saya saat begitu berambisi menjadi auditor. Walaupun impian itu hanya sekedar mampir, karna saya berubah pikiran tidak ingin menjadi auditor, dan  kemudian kembali lagi saat saya telah mencicipi dunia auditing yang begitu menantang dan bikin stres.hahaha… *gejala kelabilan dan inkonsistensi saya*.

Ada pula yang setelah dari KAP pindah ke perusahaan ternama, menjadi IA, disekolahkan untuk mendapatkan gelar CIA (Certified Internal Auditor) dan sekarang sedang mengajukan aplikasi beasiswa di universitas luar (wish u all the best for your application, friend), tetapi masih berambisi bisa terjun ke dunia big 4 yang belum tersentuh oleh saya itu.

Menjadi Ibu rumah tangga, sebuah impian yang pernah saya tuliskan kemarin mungkin jauh dari kesan glamour, jauh dari kata ambisi, meskipun membangun generasi yang hebat dari sebuah rumah bagi saya lebih dari ambisi yang lain. Generasi penuh cinta, saya menyebutnya, generasi yang ingin saya didik dari rumah sederhana saya kelak. Mungkin karna saya tumbuh di keluarga yang kedua orangtua saya bekerja,meskipun saya tidak menyalahkan mereka akan kondisi ini, bukankah ini demi mencukupi kami juga, anak-anaknya.  Saya hanya ingin anak-anak saya kelak jadi generasi penuh cinta, yang menghargai kehidupan lebih baik daripada saya.

Sekedar intermezo saja.

Kini saya mengingat impian dan mimpi saya yang lain, keinginan yang terukir di hati.

Pengen punya toko busana muslim, toko bunga dan toko buku merangkap perpustakaan (rumah baca).

Kenapa Toko busana muslim, karna saya memakai jilbab dan saya ingin menjual baju-baju yang tetap modis tapi tidak melanggar syariat. Apa dengan memakai jilbab lebar, panjang, maka kita tidak boleh modis? Menjadi modis tidak harus mengikuti tren yang ada, yang makai jilbab tapi tetap ketat kayak lemper. Kata teman saya, wanita harusnya menutup, bukan membungkus (^__^).

Sebenarnya trik termudahnya membuat pakaian yang sederhana di bagian atas (bagian yang tertutup jilbab), tapi bermain pernik di bagian bawah.Selama ini saya mencari, tapi belum menemukan yang sreg dengan saya..

Toko Bunga, meskipun saya tak pandai soal herbology tanam-menanam, tapi suka bunga. Dan semakin tertarik setelah membaca banyak komik yang menyinggung-nyinggung soal “bahasa bunga”. Bahwa setiap bunga memiliki arti tersendiri. Contohnya, ada yang bilang mawar putih untuk melambangkan cinta yang suci. Dandelion bisa berarti keinginan terkabulkan, kesetiaan. Mawar Kuning artinya persahabatan, cemburu, mencoba untuk peduli. Dan masih banyak lagi.

Toko buku, ini mah karna saya pecinta buku…

Dan saya pengen banget toko bukunya kayak punya Kathleen Kelly (Meg Ryan) sekaligus Joe Fox (Tom Hanks) di film You’ve Got Mail. Hehe…

Pengen Sekolah ke luar negeri ambil jurusan bisnis atau psikologi.

Karna dari dulu tergila-gila ma dunia psikologi. Kalau bisnis mah karna dulu pengen banget jadi konsultan keuangan.

Pernah juga bermimpi masuk Harvard kayak cita-citanya Rory Gilmore Girls (walopun akhirnya dia milih Yale).

Sekarang,

Saya punya mimpi impian lain, agak konyol atau bahkan terlalu ambisius mungkin. Saya ingin jadi salah satu tokoh perubahan di lingkungan kerja saya, di kementerian itu…  Jika memang yang diperlukan adalah jabatan tertentu untuk mengubahnya menjadi lebih baik, saya berharap, berdoa, semoga suatu saat Allah akan mengizinkannya…

Apapun mimpi dan impian yang pernah ada, yang sudah terlewati, telah dicapai, ataupun masih dalam proses pencapaian, jadikan itu pelajaran, karna bagi saya, impianlah yang memastikan bahwa diri saya masih manusia, bukan manusia berjiwa robot ataupun robot yang terperangkap dalam tubuh manusia.


5

persembahan untuk sahabat…



Meski tak ingin, saya merasakan hidup di dunia saya yang baru. Dunia yang terlepas dari teman-teman kuliah, SMA, apalagi teman-teman SD saya.

saya masih punya sahabat-sahabat yang mendukung saya, tapi entah mengapa saya begitu jahat dengan jarangnya saya menghubungi mereka. kadang, saya mengirimkan pesan singkat bertuliskan “miss you”, yang menurut saya tidak cukup untuk menggambarkan betapa saya masih mengingat dan merindukan mereka. Betapa sering saya jadi makhluk antisosial yang menghindar dari orang lain. Hingga tak jarang saya takut saya masuk golongan “orang-orang yang datang pada temannya hanya pada saat susah saja” atau “orang yang datang saat temannya senang, tapi menghilang saat temannya berduka”.

And so we talked all night about the rest of our lives

Where we’re gonna be when we turn 25

ya, saat menginap bersama dulu seringkali kita membayangkan berbagai macam hal,

dulu kita berandai-andai tentang pangeran, tentang putri, tentang dunia dongeng yang kita ciptakan…

dulu kita begitu ingin cepat menjadi dewasa, tumbuh besar, menyelesaikan sekolah cepat-cepat, kemudian bekerja…

dulu, kita selalu membayangkan tentang akan seperti apa kita dan teman-teman kita kelak..

Dulu, saya sering sekali melihat undangan pernikahan sepupu-sepupu saya ketika mereka berumur 25 tahun, hingga saya berpikir saat orang berusia 25 tahun, mereka harus menikah. Sebentar lagi, tinggal menghitung bulan, lalu hari, insya Allah saya akan merasakan rasanya seperempat abad…

Dan dulu juga saya suka menuliskan cerita tentang diri saya di masa yang akan datang.

Ketika saya SMA, saya membayangkan dan menuliskan kisah ketika saya kuliah (waktu itu saya berharap kuliah di kedokteran). Ketika saya masuk kuliah (yang ternyata jurusannya malah akuntansi..hehe), saya menuliskan kembali cerita baru membayangkan saya berusia 24 tahun, baru resign dari Kantor Akuntan ternama, kemudian menikmati kehidupan saya sebagai seorang penulis lepas (ya, dan saya memang resign dari KAP saat saya menginjak 24 tahun, meskipun saya tidak menjadi penulis lepas seperti bayangan saya).

I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same
But when we leave this year we won’t be coming back
…No more hanging out cause we’re on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now cause you don’t have another day
Cause we’re moving on and we can’t slow down

 

Sejauh apapun bayangan saya, saya selalu berpikir bahwa waktu tak kan merubah apapun, semua akan sama, termasuk persahabatan saya dengan teman-teman yang saya sayangi.

Tapi, sahabat-sahabat kecil saya pun telah tumbuh menjadi sosok dewasa yang kadang tidak saya kenal lagi..

ketika ada ikatan bernama pernikahan, ketika ada anak, ketika semua berubah..

ketika jarak memisahkan, ada kehidupan lain, dunia lain yang mau tak mau dihadapi.

Kini kita telah berada di titik itu, beragam titik.

Entah  titik balik, entah titik apa..

bagi beberapa orang, mungkin inilah titik pencapaiannya.

Kita berada di jalan kita masing-masing.
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in June
I didn’t know much of love
But it came too soon
And there was me and you
And then we got real blue
Stay at home talking on the telephone
We’d get so excited, we’d get so scared
Laughing at ourselves thinking life’s not fair
And this is how it feels
As we go on
We remember
All the times we Had together
And as our lives change
Come Whatever
We will still be Friends Forever

Memori-memori ini bermain selayaknya film tanpa suara.

Semua terjadi begitu cepat tanpa bisa dikendalikan.

Saya masih mengingat masa-masa ketika setiap malam saya menelpon sahabat saya (yang sebenarnya juga satu sekolah dan besoknya pasti ketemu juga ^^), awalnya bertanya tentang PR yang berlanjut hingga rumpian berjam-jam yang baru akan terputus ketika ibu saya meneriakkan “bayaran telponnya mahal lhoooo”. Banyak yang kita bicarakan, topik paling hangat tentu saja tentang cowok yang kita taksir di sekolah.

So if we get the big jobs
And we make the big money
When we look back now
Will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school?
Still be trying to break every single rule
Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Will Heather find a job that won’t interfere with her tan?
I keep, I keep thinking that it’s not goodbye
Keep on thinking it’s a time to fly
And this is how it feels

Sekarang, di sinilah kita..

Pekerjaan yang dahulu kita idam-idamkan, bagaimana akhirnya kita merasakan bisa mencari uang sendiri,,haha…

Banyak perubahan, ketika tanpa sengaja bertemu teman kuliah, SMA, SMP, bahkan teman SD yang terpisah sekian lama, tak jarang, kita dibuat terkaget-kaget dengan berbagai perubahan-perubahan itu.

Si tomboy dan chubby itu menjelma menjadi seorang dokter yang cantik dan cerdas.

Yang dulu terkenal nakal, kini begitu terjaga tingkahnya bahkan meminta maaf kepada teman-teman korban kejahilannya dulu.

Si cantik itu telah tumbuh dewasa dan memiliki 2 buah hati.

Ktika begitu banyak yang ternyata bekerja di bank..

Dan begitu banyak pula yang menikah muda ataupun melnjutkan kuliah  S 2 mereka..

Banyak yang merantau dan ternyata berada di sekitar saya, meski banyak pula yang masih menetap di tempat asalnya.

Ini seperti kisah-kisah di komik yang aku baca dulu..

Entah 10 tahun lagi saat kami bertemu kembali, akan seperti apakah keadaannya.

As we go on
We remember
All the times we Had together
And as our lives change
Come Whatever
We will still be Friends Forever

We will still be friends forever
Will we think about tomorrow like we think about now?
Can we survive it out there?
Can we make it somehow?
I guess I thought that this would never end
And suddenly it’s like we’re women and men
Will the past be a shadow that will follow us ’round?
Will these memories fade when I leave this town
I keep, I keep thinking that it’s not goodbye
Keep on thinking it’s a time to fly..
(Graduation-Vitamin C)
mungkin semua memang tidak akan sama lagi.

Mungkin akan ada begitu banyak pikiran-pikiran yang tak kan sama lagi.

Tapi, yakinlah bahwa kita bisa bertahan dengan semua ini.

Kita hanyalah berada di satu titik.

Meski aku tak tau apa yang akan terjadi pada kita, aku hanya meyakini, titik transformasi kita bukanlah perpisahan dan akhir persahabatan kita…

Ini bukan titik akhir kita…!!!!!

 

Untuk semua teman-teman tercintaku yang senantiasa memberi warna kehidupan dan menyemarakkan hariku, melepaskanku dari ketiadaan dan kehampaan di ruang sepi, terimakasih…

 

0

Pencari Bahagia…(Balada (C)PNS part II)

Apa saya menyesal? saya merenungi pertanyaan ini.

Saya pun masih mencari passion yang membahagiakan saya. passion yang membuat saya selalu semangat untuk bangkit dari tempat tidur setiap paginya di hari kerja.

Sungguh, saya masih mencari passion itu.

Saya mencoba belajar bahagia, belajar bertahan di tempat ini dengan berbagai alasan yang saya pikir bisa menguatkan saya.

Saya temukan alasan-alasan itu, sama seperti kamu mungkin, seperti banyak orang di posisi saya, di posisi kita  sekarang.

Tapi, kadang berbagai alasan yang menguatkan itu, tak sanggup menahan beban kita di sini. Kita belum juga bisa menemukan gairah itu.

Mungkin inilah saat kita mundur, tapi mungkin saja, harusnya kita masih harus bertahan.

Terbayang wajah bahagia orang tua saya ketika saya diterima, terbayang wajah lega mereka ketika itu. Apa jadinya jika aku katakan saya ingin keluar?

Mereka tak kan keberatan ketika saya ingin berhenti dari KAP tempat aku bekerja kan?

Lalu apa bedanya?

Tapi, saya bertahan sekarang, bukan karna mereka. katakan saya egois, tetapi, bukankah hidup ini saya yang menjalani? saya memang tak bisa bahagia ketika harus menghancurkan hati mereka, tapi, saya menjalani ini semua bukan karna mereka, sungguh bukan demi bahagia mereka.

saya memilih jalan ini, karena saya yakin saya masih bisa mencari bahagia di sini, yang menghantarkan saya pada bahagia dariNya..

Tuhan, semoga langkah saya tetap bertahan di sini adalah yang terbaik menurut Engkau…

0

RESOLUSI???

ah,,apa itu resolusi?

orang ramai-ramai meributkannya menjelang pergantian tahun ini.

Tahun 2010 ini, jujur saja saya tidak membuat resolusi apa-apa.

tidak ada target apa-apa.

Mungkin kata orang, saya tidak punya impian, cita-cita yang ingin dicapai.

Ada yang bilang, saya terlalu santai karna saya sudah berada di titik yang menurut sebagian besar orang sudah aman.

 ah, tidak juga, pikir saya.

Alih-alih mencetuskan resolusi, waktu tahun 2010 tiba saya lebih tertarik menapak tilasi perjalanan saya sepanjang 2009.

Begitu pun tahun ini, saya lebih ingin melakukan monev (jiah, bahasanya jijay banget ya..) ketimbang berencana macam-macam yang jarang ada tindak lanjutnya.

Beberapa yang ingin saya evaluasi mungkin cenderung bagaimana saya bersikap selama ini. Bagaimana tingkah laku saya selama ini.

Saya tahu saya masih banyaaaaaak sekali kekurangan dalam bersikap. saya masih kurang dewasa dalam menghadapi konflik. Entah sudah beberapa kali saya berkonflik dengan orang-orang di sekitar saya, di saat saya sebaiknya mengalah saja.

Hm,,Kenapa rasanya saya jadi makin egois ya?

Saya ingin jadi lebih dewasa dalam menyikapi konflik. Apalagi kalau konfliknya ga penting gitu, yang bisa-bisa malah merugikan posisi diri sendiri.

Selain kedewasaan, saya ingin sekali, dan harus bisa memperbaiki kualitas dan kuantitas waktu dan kebersamaan saya bersamaNya. Huaaah,,kian malu rasanya hati ini ketika melihat amalan yang compang camping itu.

Betapa sering saya berlarut-larut dalam pekerjaan saya, tapi betapa sebentar waktu saya bersamaNya.

Saya merindukan lingkaran kecil itu lagi, tapi kapan ya bisa mulai lagi?

saya kangen stadium akhir dengan yang namanya berlomba dalam kebaikan, saya kangen atmosfer cinta yang ada di lingkaran itu. Bukannya tak bisa dilakukan, tapi kenapa saya merasa atmosferna berbeda ya?

Kapan terakhir membaca al ma’tsurat bareng, hapalan bareng, muhasabah bareng?

Bahkan di suatu rapat internal kemarin, saya sempat terharu ketika, sebagai doa penutup, pembaca doanya membaca doa robithoh..

Subhanallah, kangen saya makin menjadi karenanya.

Ack, ko jadi melantur kemana-mana.

Resolusi yang baru muncul lagi ketika saya di kamar mandi tadi, saya harus mulai berolahraga lagi. meluruskan badan yang mulai kaku-kaku ga karuan. Hm,,fitnes harus digalakkan lagi ya…hehe..

Sekian dulu aja deh.